Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2014

Modus Penipuan Baru dan Hari Tersial Saya.

Jember, 20 Juni 2014.

Hari ini, saya memiliki agenda pribadi untuk segera menyelesaikan tugas akhir kuliah. Pada Tanggal 19 Juni kemarin, saudara saya dari Bali telfon. Ia sedang ada di rumah saya (Banyuwangi, Muncar). Ia menyakan kabar dan kapan saya bisa pulang ke Banyuwangi agar bisa menemaninya untuk sekedar ngopi, dan memancing ikan. Untuk itu, mengapa pada Tanggal 20 Juni, saya harus segera selesaikan revisi tugas akhir kuliah.

Sejak tadi pagi, HP saya memang sengaja saya singkirkan. Agar tidak mengganggu aktifitas mengerjakan tugas akhir. Saya memang tipe orang yang tidak bisa fokus ke banyak hal, agar konsentrasi terjaga, Hp saya singkirkan terlebih dahulu. Untuk hari ini saja.

Capaian saya untuk segera menyelesaikan revisi tugas akhir hari ini memang belum selesai. Pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, Hp kembali saya tengok. Tiba-tiba ada pemberitahuan panggilan tidak terjawab dari Pak Lik saya yang ada di banyuwangi sebanyak 10 kali. Ada juga laporan panggilan tidak terjawab dari Pak Lik saya dari Jember sebanyak 4 kali. Tanpa meninggalkan pesan SMS. Saya berpikir sejenak, untuk mempertanyakannya. Ada apa ini ? Sebab, tidak biasanya keluarga saya menelfon atau memberi kabar. Kalau bukan persoalan yang penting.  

Tidak lama kemudian saya teringat, bahwa keluarga saya yang dari Bali masih di rumah. Barangkali ia ingin saya segera pulang untuk menemaninya. Tidak banyak pikir, karena hari juga sudah sore. Saya langsung tancap gas untuk pulang ke rumah Banyuwangi, sekitar pukul 18.00 WIB.

Saat sedang di perjalanan, masih sampai di Terminal Pakusari Jember, Hp saya kembali bergetar. Pak Lik dari Banyuwangi kembali menelfon.

“Lil, kamu dimana? (dengan bahasa Jawa),” tanya Pak Lik tergesa-gesa.
“Aku lagi di Jalan, Lik. Iki perjalanan pulang ke Banyuwangi. Ada apa Lik?,” tanyaku singkat.
 “Kamu apa ketangkap Polisi? Katanya kena kasus narkoba?”
“Kok bisa, saya lo seharian tidak kemana-mana? Kabar darimana itu?,” tanya saya penasaran.

Ternyata, menurut Pak Lik. Kabar saya tertangkap Polisi karena terlibat dalam kasus narkoba sudah menyebar ke beberapa tetangga. Rasa penasaran saya bercampur aduk dengan emosi. Siapa yang beraninya memberi kabar seperti ini. Pak Lik bercerita kalau siang tadi ada telfon dari seseorang yang mengaku dari kepolisian. Kebetulan yang menerima telfon Ibu saya, lewat Hp adik saya. Kurang lebihnya, orang yang mengaku Polisi tersebut berkata, “Anak anda sekarang ditangkap Polisi, karena terlibat kasus narkoba. Barang buktinya telah ditemukan di sakunya.”

 Ibu saya lalu menjawab, “ Siapa? Ulil ta?”
Sontak orang aneh itu menjawab “Iya, Ulil anak Ibu. Sekarang kasusnya mau diselesaikan secara kekeluargaan atau anak anda akan dipenjarakan? ”

Ada beberapa keanehan dalam obrolan tersebut. Pertama, ia tidak secara langsung menyebut nama saya. Ia hanya tahu nama saya setelah Ibu yang memberitahu. Saya yakin, bila Ibu bertanya, “Anak saya siapa namanya?” orang yang sedang menelfon Ibu saya tidak akan tahu siapa nama saya. Bila ini kasus penipuan untuk mendapatkan uang.

 Kedua, sejak kapan kasus narkoba bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan? Setahu saya, pelaku yang terlibat dalam kasus narkoba akan langsung dijebloskan ke penjara. Setelah melalui serangkaian proses peradilan. Atau setidaknya, ada prosedur administratif lewat surat resmi, bila menghubungi kelurga bersangkutan. Apakah ini modus penipuan baru? Pelaku bisa dilepas kembali setelah ditebus dengan uang lewat cara penyelesaian “kekeluargaan”.

Dalam setengah hari tadi, keluarga saya bingung setengah mati. Beberapa kantor kepolisian telah dihubungi untuk memastikan kabar tersebut. Kebingungan tersebut muncul karena Hp saya tidak bisa dihubungi atau tidak dijawab. Barangkali ini memang hari tersial saya. Keputusan untuk meninggalkan alat modernitas bernama Hp ini memang tidak bisa sepenuhnya ditinggalkan. Selama keberadaan saya sedang jauh dengan keluarga.

Baru besok pagi, saya akan memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah mendapatkan kabar buruk saat saya masih berada di jalan tadi. Selain itu, Pak Lik dan Mas Ipar saya yang ada di Jember ternyata sedang ngopi di depan kantor Radio Prosalina. Mereka sudah setengah hari ini juga bingung mendengar kabar buruk ini. Pak Lik dan Mas saya ini tinggal di daerah kecamatan Wuluhan. Mereka datang ke kawasan kampus hanya ingin memastikan keberadaan saya dengan mencari lokasi kos saya. Untuk itu, saya langsung putar balik menuju ke warung depan Prosalina dan tidak jadi pulang. Untuk menggali informasi lebih dalam, tentang kronologi permasalahannya .

Di depan kantor Radio Prosalina, saya memesan segelas kopi sambil makan tahu goreng. Pak Lik dan Mas Ipar saya terlihat mengamati fisik saya dalam-dalam. Tak banyak basa-basi saya langsung bertanya. Sebenarnya informasi ini datangnya dari mana?  Kedua keluarga saya itu pun bercerita. Kebetulan Mas Ipar saya, Bapaknya adalah seorang polisi yang berdinas di Polres Jember. Ia bertanya kepada Bapaknya. Dari obrolan tersebut, bahwa tidak ada operasi kasus narkoba di Jember tadi malam. Rasa kawatir Pak Lik dan Mas Ipar saya mulai reda. Mas Ipar saya lewat pendapat Bapaknya, bahwa kasus ini merupakan modus penipuan untuk mendapatkan uang.

Tidak lama kemudian, saya meminta nomor orang yang telah melakukan penipuan ini. Atau bisa dikatakan orang yang ingin mencemarkan nama baik. Dengan cara menyebar fitnah. Saya langsung menghubunginya, namun berulangkali tidak ia angkat. Ini nomor telfonnya 085 270 904 757.

Sebenarnya saya tidak ingin menyebarkan permasalahan saya ke publik. Hanya saja, ini kasus yang sangat berbeda. Sifatnya bukan permasalahan personal. Ini merupakan kasus yang melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar. Semoga saja tidak ada lagi yang menjad korban. 


Jumat, 13 Juni 2014

Tahun Baruan Bersama Jagung dan Ayam

02 januari 2014.


Tidak terasa, umur semakin tua saja. Sekarang sudah Tahun 2014. Kebutuhan juga semakin bertambah. Kemarin pagi, Selasa 31 Desember, masih di Tahun 2013 saya berangkat ke sawah untuk memanen jagung. Terhitung sudah tiga bulan lebih sejak November, saya menunggu hari panen.

Perlengkapan untuk memanen sudah disiapkan Pak Lek, (Adik Bapak saya). Jadi saya tinggal berangkat. Cukup membawa satu botol air mineral berisi 1,5 liter untuk kebutuhan minum. Pagi itu, saya mengenakan pakaian kaos hitam lengan pendek dan celana ¾. Topi dan kaos lengan panjang saya bawa untuk kebutuhan kerja.

Hujan di Bulan Desember turun hampir  setiap hari. Sebuah ancaman bagi petani yang sedang memanen jagung. Apabila jagung dipanen dan tidak segera dijemur maka akan timbul bintik-bintik hitam pada jagung. Hal itu membuat harga jagung turun.

Kondisi jagung milik saya sudah cukup kering di pohonnya. Sehingga saya berani untuk memanen lalu mengendapkannya apabila harganya terlalu murah. Biasanya untuk mengantisipasi terjadinya bintik hitam pada jagung, petani menjual jagung dalam kondisi belum dirontokkan (masih utuh). Atau sudah dirontokkan tapi dalam kondisi basah.

Kabarnya, harga jagung saat ini di daerah saya, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi mencapai 2.800 perkilo dalam kondisi kering dan  basah 1.900. Dan saya memutuskan menjualnya dalam kondisi basah. Soalnya tidak ada yang ngurus karena saya harus ke Jember.

Perjalanan dari rumah ke sawah membutuhkan waktu  sekitar 10 menit. Maklum, jalannya rusak. Belum lagi harus melewati jembatan gantung yang terbuat dari anyaman bambu. Cukup ngeri kalau tidak pernah. Panjang jembatannya sekitar 20 meter. Kapan-kapan saya foto sebelum roboh.

Sampai di sawah, saya langsung ambil jarum yang terbuat dari bambu untuk menusuk ujung kelobot jagung. Baru dapat tiga biji jagung yang saya masukkan ke dalam timba bekas cat, saya sudah kena semprong Pak Lek. “Ojo gawe kaos lengen cendek, gatel kabeh engko,”  omelannya tidak saya pedulikan. Ternyata benar, baru lima menit kerja tangan mulai terasa gatal. Saya langsung ganti baju lengan panjang.

Tanaman jagung yang saya panen sekitar seperempat hektar. Dulu sewaktu tanam menghabiskan tiga kilogram benih. Kalau tanamannya normal bisa panen 1,5 ton.  Tapi kelihatannya tanaman saya ini kurang bagus. Ada yang buahnya besar dan kecil. Terkadang sesuai lokasi lahannya. Biasah, tanah yang saya tanami bekas tambak. Jadi belum normal. Masih ada kadar garamnya.

Proses Panen

Petani di desa saya menyebut panen jagung dengan sebutan mecok. Biasanya sebelum panen, petani bekerjasama dengan peternak sapi agar tanaman jagung diplancongi (memotong ujung tanaman jagung). Petani butuh tanaman jagungnya diplancongi agar memudahkan proses panen, sedangkan peternak membutuhkan hasil plancongan untuk pakan sapi.

Cara panennya sederhana. Ujung kelobot jagung ditusuk dengan jarum besi atau dari bambu lalu dikelupas. Untuk memudahkan proses pemindahan, jagung ditaruh ke dalam timba sampai penuh lalu dimasukan kembali ke dalam karung. Setelah itu baru diangkat ke tempat pengumpulan. Agar tidak basah, karena tanah agak becek, tempat pengumpulan jagung dilapisi terpal.

Belajar jadi petani

 
Pak Lek sedang memanen jagung yang sudah diplancongi













Mengelupas kelobot jagung

Melepaskan jagung dari pohon




















Buang ke tempat sampah J
Jagung siap dimasukkan ke dalam karung



















Tunggu sampai karung terisi penuh

  
Angkat jagung dalam karung
menuju tempat pengumpulan





















Tim kerja rodi

 
Pak Lek yang satu juga mengangkat jagung dalam karung




















Tuang adonan J

Waktu itu saya baru menyadari kalau ini hari akhir tahun. Esok hari sudah tahun 2014. Rata-rata semua orang sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. Sedangkan saya  mau tidur saja karena terlalu lelah.

Sebelum pulang, karena hari sudah sore, sekitar pukul 15.30 WIB dan awan terlihat menggumpal hitam. Pertanda hujan mau turun. Pak Lik menutupi hasil pengumpulan jagung panen dengan terpal.

Dampak Perayaan Tahun Baru Bagi Petani

Menjelang malam tahun baru, saya sedikit senang karena hujan turun semalam penuh. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak karena jarang terdengar suara terompet di jalan: untuk menyambut pergantian tahun.
Malam itu, saya punya rencana sederhana untuk menyambut tahun baru. Tanpa harus keluar rumah. Sebelum tidur nyenyak, saya dan Pak Lik memanggang ayam Ibu yang tidur di pojok belakang rumah. Setelah ayam tersebut matang, Ibu baru saya kasih tahu. Dan ternyata kami malah makan bersama. Tanpa banyak ngomong.

Sebenarnya saya hanya ingin tidur nyenyak dan bisa bangun dengan kondisi badan segar. Setelah itu berangkat ke sawah lagi untuk menjual jagung. Saya tidak perlu kawatir dengan keadaan jagung yang saya inapkan di sawah. Desa saya masih aman dari maling. Apalagi malam tahun baru, pasti malingnya juga sedang berlibur.

Pagi itu, 1 Januari 2014, saya berangkat ke sawah dengan semangat. Karena dompet saya akan terisi kembali. Kami bertiga (Saya dan kedua Pak Lik) berbagi tugas. Ada yang menghubungi pedagang jagung, Ada yang melanjutkan pekerjaan di sawah, dan saya cukup standby di lokasi.

Saya duduk di gubug sawah, menunggu kedatangan Pak Lik. Setengah jam kemudian, dia terlihat memarkir sepeda lalu berjalan tergopoh-gopoh. Saya hanya berfikir. Semoga saja tidak ada apa-apa. Belum sampai di gubug, masih sekitar 50 kilometer Pak Lik sudah teriak, “pedagang jagunge sek tahun baruan.” Ia sudah mencari pedagang jagung yang buka, tapi hasilnya nihil. Semua tahun baruan.

Pak Lik saya yang satunya sedang menyemprot pestisida ke tanaman cabai dengan tenang. Tidak berkomentar banyak. Tidak lama kemudian setelah ia istirahat, baru mau berbagi cerita. Ternyata ia senasib dengan saya. Tidak menyangka kalau semua orang baik tua maupun muda di desa sedang sibuk merayakan tahun baru, “Wingi aku jual lombok pisan, eh tibak,e juragan lomboke persiapan tahun baruan pisan,” ungkapnya dengan tenang sambil melinting tembakau.

Saya masih tidak percaya kalau rata-rata pedagang hasil pertanian sedang tahun baruan. Saya ngomel ke Pak Lik agar mau mencari ulang pedagang yang masih buka. Ia pun kembali berangkat, namun hasilnya tetap nihil.

Karena tidak ada kerjaan di sawah, saya hanya tiduran di gubug. Tidak terasa sudah zuhur. Pak Lik terlihat sedang wudu, mau melaksanakan salat. Saya memutuskan untuk pulang, sambil menggerutu. Jagung terpaksa saya inapkan kembali.


*Catatan: Semua foto diambil menggunakan kamera Handphone Samsung GT- 3322. Resolusi 1600×1200. Dua Megapixel. 

Petani Waspadai Serangan Hama Tikus

Petugas Dinas Pertanian UPTD bersama kelompok tani
sedang mencari lubang sarang tikus. (koleksi foto pribadi)
Senin, (10/02) Mahasiswa Kuliah Kerja Kerja Nyata Universitas Jember (KKN UJ) gelombang pertama Tahun Ajaran 2014 kelompok tiga turut berpartisipasi dalam kegiatan praktek pengendalian hama tikus di Desa Badean, Bangsalsari, Jember. Penyuluhan untuk memberantas hama tikus tersebut diadakan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Badean bekerjasama dengan Dinas Pertanian UPTD Bangsalsari.

Menurut Suadpodo Benyamin, Petugas Pelaksana Lapangan, UPTD  Pertanian Bangsalsari, pengendalian hama tikus perlu dilakukan agar hasil panen petani bisa maksimal. Saat ini, hama tikus di Desa Badean masih relatif aman. Kondisi berbeda terjadi di Desa Panti, tikus sudah membuat banyak tanaman Padi dan jagung rusak.

Praktek pengendalian hama tikus dilakukan dengan cara menyisir pematang sawah untuk mencari sarang tikus terlebih dahulu. Kemudian, sarang yang diyakini terdapat hama tikus langsung diberi asap beracun. Ketua Gaboktan, Sumadi mengatakan, pemberantasan hama tikus dengan racun yang terbuat dari belerang ini cukup efektif. Tikus bisa langsung mati di dalam sarangnya.

Sesudah melakukan percobaan memberantas hama tikus, Mahasiswa KKN UJ bersama Gapoktan, UPTD Pertanian Bangsalsari dan perangkat Desa Badean berdiskusi seputar penanganan hama tikus. Suadpodo  memberikan penjelasan  kepada para petani agar menutup semua lubang tikus terlebih dahulu sebelum diracun. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tikus di dalam sarang. “Kalau semua lubang sarang tikus ditutup, nanti kita akan tahu sarang tikus mana yang ada isinya ketika ada lubang yang kembali terbuka setelah disumbat,” jelasnya.

Melonjaknya hama tikus disebabkan putusnya rantai makanan. Predator seperti burung hantu, ular dan Garangan sudah banyak diburu. Padahal, predator burung hantu dalam sehari bisa membunuh tikus sampai 8 ekor. “Jadi seperti burung hantu dan garangan jangan dibunuh,” ungkap Suadpodo saat menuturi petani.

Kegiatan praktek pengendalian hama tikus tersebut juga memberi pengetahuan kepada Mahasiswa KKN UJ.  “Kita kan berasal dari fakultas yang berbeda-beda, tidak hanya dari pertanian. Jadi dari kegiatan tersebut kita bisa tahu bagaimana cara membunuh tikus dengan asap beracun,” ungkap Angga Fitroni, Koordinator KKN UJ Desa Badean. 



Senin, 15 Juli 2013

Kami Ingin Pulang

Anak-anak Syiah rindu sekolah
Foto: Aris Setiawan

  
“Orang-orang mungkin mengira kami kerasan di sini, tapi sebenarnya tidak. Kami ingin pulang ke rumah kami yang dulu, walaupun sekarang sudah tidak ada. Kami menginginkan kedamaian, bukan kekerasan. Kami tahu agama Islam tidak mengajarkan kekerasan tapi kedamaian,” ujar Tohir.



Siang itu, Jum’at (06/07), sekitar pukul 14.00 WIB, dengan senyum mengembang beberapa warga Syiah berdatangan satu demi satu menjabat tangan kami, peserta workshop Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), yang sudah berada di depan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawaawa) Puspa Agro, Sidoarjo, Jawa Timur. “Silahkan duduk, mari!” Salah satu dari warga Syiah dengan ramah mempersilakan kami duduk di ruangan terbuka, setelah beberapa dari mereka membersihkan lantai Rusunawa paling bawah.

Selain bersilaturahmi dan menyampaikan simpati atas musibah yang ditanggung warga Syiah Sampang, kunjungan kami untuk mendokumentasikan situasi yang tengah mereka hadapi di pengungsian. Gedung Rusunawa pengungsian ini bertingkat lima dengan cat hijau, lantai keramik putih. Kami bertemu dengan Tohir, warga Islam Syiah yang berasal dari Desa Karang Gayam, Sampang, Madura di lantai dua.

Masih segar dalam ingatan Tohir bagaimana rumah tempat tinggalnya dan rumah-rumah milik warga Syiah lainnya hangus dibakar saat mereka diserang. Ia juga kehilangan pekerjaan sebagai petani setelah Bupati Sampang merelokasi warga Syiah dari Gor ke Rusunawa Sidoarjo pada 20 Juni 2013. “Saya itu petani. Saya ingin bercocok tanam seperti dulu,” ungkap Tohir.

Puncak kekerasan terjadi ketika ketika massa Sunni membakar pondok Nangkernang milik warga Syiah pada 29 Desember 2011. Kerusuhan kembali meletus saat ribuan massa membakar 37 rumah warga Syiah pada 26 Agustus 2012. Satu Warga Syiah juga meninggal dan enam orang luka-luka. Masyarakat Islam Sunni yang tidak menerima faham Islam Syiah merupakan salah satu penyebab konflik tersebut meletus.

Saat ditemui, Tohir sedang bersama Istrinya, Rimah. Mereka berdiri di depan pintu kamarnya. Beberapa orang yang lewat di depan kami selalu membungkukan punggungnya disertai senyuman. Entah itu masih remaja, anak kecil, sampai yang lebih tua dari kami. Konflik sesame saudara di Sampang tersebut membuat Hasyim, kakak kandung Tohir, meninggal.

Tohir berharap bisa segera kembali ke kampung halamannya dengan damai. “Orang-orang mungkin mengira kami kerasan, tapi sebenarnya tidak. Kami ingin pulang ke rumah kami yang dulu walaupun sudah tidak ada sekarang. Kami menginginkan kedamaian, bukan kekerasan. Kami tahu Agama Islam tidak mengajarkan kekerasan tapi kedamaian,” ujar Tohir.

Di sela-sela pembicaraan kami, seorang anak kecil duduk menangis sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. “Itu anak saya. Saya tidak tega melihatnya meminta jajan. Anak saya dua belas, sekarang tinggal sepuluh. Yang dua meninggal,” cerita Tohir lirih dengan tatapan mengambang.

Tidak lama kemudian, Hizbullah anak laki-laki Tohir, juga ikut dalam pembicaraan kami. Saat ini, Hizbullah tidak bisa lagi belajar sekolah di SMA, Pamekasan. Teman-temannya yang tidak sefaham dengan Syiah memusuhinya. “Di sini ngasih tahu belajar ngaji, main bola,” Hizbullah menjelaskan aktivitasnya dari siang sampai malam selama di pengungsian.

Tohir selalu mengingatkan kepada anak-anaknya agar tidak menyimpan dendam pada masyarakat Madura yang memusuhinya. Permasalahan tersebut baginya merupakan ujian dari Tuhan untuk bersabar. “Agama Islam tidak mengajarkan sesama manusia melakukan kekerasan. Apalagi memaksa mengikuti ajaran agama dengan kekerasan,” demikian Tohir meyakini.

“Saya tidak marah. Saya tidak dendam. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kami dan keluarga. Kita adalah sesama muslim. Mengapa harus saling menyerang dan melakukan kekerasan?”
Tohir menggantungkan harapannya kepada pemerintah, “Saya hanya orang kecil yang harus tunduk pada pemerintah. Semoga pemerintah bisa cepat-cepat menyelesaikan masalah ini dan memulangkan kami ke desa kami. Kami ingin hidup kembali dengan masyarakat secara damai.”

Di Rusunawa, kami juga melihat seorang ibu terlihat sedang menggendong anaknya yang masih berumur 8 bulan. Fitri melahirkan bayi tersebut saat berada di GOR Sampang. Pada mulanya, Fitri mau saja tinggal di GOR karena pemerintah ingin mengamankan Warga Syiah.

“Kami kan punya tempat tinggal juga di sana, katanya demi keamanan ya terpaksa juga kami akhirnya mengikuti kemauan pemerintah”

Meski demikian, Fitri merasa terusir dari kampung halamannya sendiri. Saat pemerintah menempatkannya di GOR, beberapa kali bantuan kebutuhan logistik dan air sempat mampet. Untungnya, masyarakat Madura yang tidak menempati GOR ada yang mau membantu kebutuhan tersebut. “Makan sempat diputus, air juga sempat diputus. Untungnya, teman-teman yang di luar itu bantuin kami. Jadi kami tetap bertahan.”

Menurut Fitri, selama warga Syiah direlokasi, tidak ada pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Warga Syiah hanya bergantung kebutuhan hidup dan kesehatannya pada pemerintah. “Untuk saat ini kalau cuma makan sama air lancar. Nggak tahu ke belakangnya nanti,” Fitri menyesalkan nasibnya.

Fitri sangat merindukan kesibukan sehari-hari yang sebelumnya ia dan warga Syiah lainnya lakukan di desanya, yang mayoritas bekerja sebagai petani. Ia tidak mau bergantung terus kepada pemerintah dan terus berharap bisa segera pulang ke kampung halamannya. “Pengangguran di sini. Kita kan orang desa, biasa bertani di kampung. Kami di sini terpaksa.”

Bagi mereka, apa yang mereka yakini tidak lantas menjadi alasan menjadi warga negara Indonesia yang menanggung penderitaan yang sangat kejam: diusir dari kampung halaman.

“Apalagi, Undang-Undang Dasar di Indonesia sudah menjamin kebebasan beragama. Setiap warga negara wajib mendapat perlindungan dari negara,” Muktiono, pakar hukum dari Pusat Pengembangan HAM dan Demokrasi (PPHD) Universitas Brawijaya Malang, menegaskan ketika menyampaikan materi HAM dan Kebebasan Beragama sebelum para peserta berkunjung ke Rusunawa. Ia juga menggaris bawahi bahwa yang melakukan pelanggaran HAM adalah pemerintah sebagai pemegang kewajiban. Konflik horisontal antar masyarakat yang menimpa warga Syiah Sampang merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membuat hubungan keduanya kembali harmonis. “Sebab, pemerintah punya wewenang mengatur warga negara sesuai kontrak agung, konstitusi, UUD 1945,” imbuhnya.

Muktiono mencoba menjelaskan bahwa, ada sebuah persamaan moral universal dari sesama manusia, sesama warga negara Indonesia. Warga Syiah tidak mungkin dipaksa, dengan cara kekerasan sekalipun, agar mau memahami faham Sunni. Demikianpun, warga Sunni tidak boleh dipaksa memahami dan menganut Syiah. Sebaliknya, di antara warga Negara harus menghormati keyakinan atau faham yang berbeda. “Itu merupakan kewajiban moral antar-sesama pemegang hak,” tegasnya.

Di pihak lain, Fannan, Bupati Sampang, mengaku tidak tinggal diam dan masih mencari langkah pemecahan yang dapat diterima oleh kedua kelompok. Selama ini upaya yang ditawarkan belum mendapatkan tanggapan positif baik dari pengungsi Syiah maupun warga Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Sampang (Kompas.com, 3/6/2013). Fannan juga berdalih, "Penanganan Syiah dan anti-Syiah di Sampang bukan hanya tugas Pemerintah Kabupaten Sampang, tetapi tugas semua pihak" (Kompas.com, 3/6/2013).

Namun begitu, Fitri, Tohir, dan warga Syiah di pengungsian merasa menjadi korban atas pengabaian negara terhadap hak-hak mereka sebagai warga negara untuk hidup secara aman di daerah yang dikehendakinya dan untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Tim Liputan : Aris Setiawan (LPM Universitas Bengkulu), Laily Fauziyah (LPM Alpha Universitas Jember), Miftahul Arifin (LPM Idea IAIN Semarang), Moh. Ulil Albab (LPMS-Ideas Universitas Jember), dan Siti Fatimahtuzzahro (LPM Kosa Kata IAIN Cirebon).


*Tulisan ini hasil liputan pelatihan Sejuk dan sudah dimuat di Website Sejuk



Senin, 08 April 2013

Peristiwa Berdarah DI LP Cebongan



Jember, 7 April 2013.

Liputan Majalah Tempo pekan ini mengulas kasus pembunuhan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Cebongan, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Diduga kuat pelaku pembunuhan dari Koppasus. Analisa Tempo dalam laporan investigasinya ini cukup mendalam. Dugaannya sangat masuk akal. Koppasus melakukan balas dendam setelah ke empat tahanan membunuh  Sersan Kepala Santoso Anggota Koppasus TNI AD dari Grup II, Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah. 

Sekitar pukul sebelas siang, (23/03) puluhan tahanan dari Kepolisian DIY, dititipkan di Lapas Cebongan. Empat di antaranya merupakan tersangka pembunuhan Santoso. Kepala lapas akhirnya takut akan terjadi masalah. Kepolisian DIY menghubungi Panglima Kodam TNI Diponegoro, agar tidak mengganggu dan meminta jaminan ke amanan untuk empat tahanan. Seperti yang dikutip Tempo ia menjawab, “Tenang, akan aman”

Deki salah satu dari empat tahanan lain sudah merasa ada yang tidak beres. Ia mencoba bertanya kepada sipir tentang keamanan di Lapas Cebongan. Masalah kelengkapan senjata, Sipir menjawab seolah meyakinkan. Sejumlah senjata seperti laras panjang, laras pendek, dan senjata kejut. Meski demkian ke empat tahanan masih merasa was-was. Teman-teman tahanan lama terlihat asik bermain kartu tapi mereka tidak bergabung. 

Siapa yang tidak mengenal Deki, bagi tahanan lama ia sangat disegani sehingga meski baru masuk Lapas langsung dipanggil “Bang.” Deki merupakan tahanan yang terkenal dengan aksi kejahatannya: memperkosa dan membunuh. Sehingga sebelumnya ia sudah pernah masuk bui, dan kembali melakukan tindak pidana membunuh salah satu petinggi Koppasus. 

Firasat buruk dari petugas LP Cebongan dan ke empat tahanan ternyata benar terjadi. Sekitar pukul satu dini hari, belasan orang memaksa masuk Lapas dengan mengancam akan meledakan Lapas jika permintaannya untuk membuka gerbang  pintu masuk tidak dituruti. Setelah dibuka, Petugas Lapas ditodong dengan senjata dari belakang kepala yang diminta untuk mengantar menuju “kamar” tahanan kawanan Deki. 

Dua orang masuk menuju sel tahanan, sedangkan yang lainnya menyebar untuk berjaga-jaga di luar LP cebongan, di dalam ruangan setelah pintu masuk. Pelaku merusak sejumlah kamera pengintai.  Setelah sampai di sel tahanan, satu orang berjaga-jaga satunya lagi masuk ke dalam sel untuk menjadi eksekutor.

Sejumlah tahanan sekitar 30 orang berkumpul menjadi satu, termasuk kawanan Deki. Para tahanan terlihat sedang tidur. Pelaku berteriak mencari kawanan Deki. Para tahanan tidak ada yang menjawab. Pelaku mengancam akan membunuh semua tahanan. Tapi tetap, para tahanan masih bergerombol dan tidak mau menjawab. Pelaku akhirnya menyuruh para tahanan yang bukan kawanan Deki memisahkan diri di sebelah kanan. Cara ini ternyata ampuh. Tiga orang yang masih di tempat langsung diberondong dengan timah panas.

Pelaku sadar, masih ada satu yang bersembunyi di gerombolan tahanan lain. Pelaku tidak kesulitan mencari tahanan yang ia cari. Mimik mukanya terlihat ketakutan, ia ternyata berlutut di sebelah tembok. Pelaku menembakan timah panas tepat di mulut korban.  Darah pun berhamburan mengenai tahanan yang ada disebelahnya. 

Seperti yang dikutip Tempo dari sumber anonimnya, salah satu tahanan berteriak “Hidup Koppasus.” Pelaku pun menghardik, “ Kamu bilang apa, saya bunuh kamu.” Salah satu teman pelaku mengingatkan, untuk segera keluar dengan menunjukan jam tangan. Sebelum keluar dari ruangan tiga mayat yang  ada di sebelah kiri masih ditembak lagi dengan timah panas. Ke dua pelaku tidak lari, hanya berjalan cepat.