Kamis, 17 Juli 2014

Perjalanan Membaca Ruang Publik


Siang itu, saya ingin membaca. Tapi bukan membaca teks di buku ilmiah atau fiksi. Saya ingin membaca ruang publik di Jember. Perjalanan dimulai dari jalan Kalimantan sekitar pukul 15.00. 

Setiap sore di bulan Ramadhan, jalan di sekitar kampus menjadi semakin padat. Analisis sederhananya karena banyak aktivitas jual beli makanan terutama di sepanjang trotoar jalan Kalimantan dan Jawa. Ada yang berjualan di atas trotoar dan membuka lapak di tepi jalan. Ada pula yang berjualan minuman takjil sambil berdiri di tepi jalan.

Perdebatan yang cukup rumit memang, bila membahas keberadaan pedagang kaki lima. Mau tidak mau, realitas tersebut menunjukkan tingkat perekonomian masyarakat masih rendah. Ruang kreativitas untuk memproduksi hasil kerja secara mandiri belum didukung oleh pemerintah. Kesempatan berdagang secara legal formal masih dipegang oleh pemilik modal. Bayangkan saja, berapa harga sewa ruko di sekitar kampus? 

Bila ditelan mentah-mentah, realitas macet dan pejalan kaki yang tidak bisa lenggang kangkung di trotoar memang disebabkan oleh pedagang kaki lima. Ternyata itu hanyalah potret lapangan pekerjaan yang masih minim di Jember. Sehingga, masyarakat cenderung mengakses pekerjaan yang sebenarnya belum mengantongi izin. Di atas trotoar misalnya, memang lebih murah bila ada transaksi dari perantara dibanding sewa ruko. Tentunya dengan modal relatif terjangkau. 

Saat menyuri jalan Letjend Suprapto, atau lebih mudah dikenali di kawasan markas Batalyon Armed,  Saya berpapasan dengan pedagang sangkar ayam keliling. Ada pula padagang sayur keliling. Menyunggi sayurannya dengan tampah. Barangkali inilah realitas masyarakat lapisan bawah yang terpinggirkan secara persaingan ekonomi. Seperti yang dikatakan Antony Gidden, dalam buku The Third Way. Tidak adanya pemerataan perekonomian atau munculnya kesenjangan sosial karena pemerintah masih membiarkan pasar bebas saling berkompetisi. Bagi yang tidak memiliki modal, siap saja tersingkir. Ia pun menawarkan adanya bentuk kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat untuk meraih kesejahteraan sosial. Salah satunya dengan mendukung pemodal kecil yang memiliki kreatifitas dalam berkarya. 
Seorang lelaki tua sedang berjalan membawa sangkar ayam, di jalan Letjend Suprapto (Dok. Budi)

Pedagang sangkar ayam keliling ini sudah berusia tua. Bila dilihat secara fisik. Misalnya bila ia memiliki kemampuan untuk membuat sangkar ayam, itu hanya dalam jumlah terbatas. Tentunya kalah dengan industri yang bisa memproduksi secara masal, apalagi bisa menawarkan harga lebih murah. Pastinya.

***

Pada mulanya saya dan Budi hanya iseng saja. Ingin melakukan perjalanan, meski tidak jelas tujuannya kemana. “Yang penting jalan Bud, kalau ada yang menarik langsung potret saja,” tawarku penuh percaya diri. Budi pun tidak banyak komentar, dia hanya mengiyakan saja. Kami mengamati sekitar dengan laju motor perlahan. Sampai di kawasan jembatan Semanggi, kami berhenti sejenak. Memotret grafiti yang ada di dinding jalan melingkar menuju jembatan Semanggi. Saya tersenyum melihatnya, inilah bentuk ekspresi seni visual. Bisa dinikmati secara estetik dan tentunya ada pesan yang ingin disampaikan. Entah itu bentuk eksistensi diri kelompok grafiti atau sekaligus ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah dan penyadaran kepada masyarakat.

Seni grafiti di bawab jembatan Semanggi (Dok. Budi)

Saya melihat, ada emosi di balik gambar tersebut. Ruang publik memang sudah banyak diciderai oleh papan-papan reklame iklan. Ada yang ditancapkan di pohon sampai yang skala besar dengan tiang besi. Saya pribadi merasa senang bila melihat grafiti daripada iklan. Meski ada yang menganggap aktifitas tersebut tidak bertanggungjawab karena corat-coret dinding ruang publik. Tapi saya rasa itulah salahsatu bentuk demokrasi. Kebebasan berekspresi dan berpikir.
Beberapa kawan saya yang punya pengalaman melakukan vandalisme juga tidak seenaknya sendiri. Masih ada proses izin kepada pemilik tembok. Pun tidak semua tembok akan digambari. Tembok rumah orang misalnya, jelas dimarahi. Jadi ada ruang-ruang tertentu yang dianggap strategis untuk menyampaikan pesan. Terutama ruang milik publik yang sebenarnya tidak perlu ada proses izin. 

Tembok-tembok yang seringkali saya lihat terdapat grafiti dan mural memang terletak di tepi-tepi jalan. Biasanya tembok pembatas. Di jembatan Semanggi ini saya melihat beberapa papan reklame kosong telah dicoret-coret dengan kurang estetik. Tapi tak apalah, barangkali hanya ada sedikit waktu atau keberanian untuk mempercantik. Paling tidak, sudah ada keberanian untuk mengisi kekosongan. 
Papan reklame iklan dijadikan ruang kreatif sekaligus kritik (Dok. Budi)

Dari atas jembatan Semanggi, saya dan Budi melihat kali Bedadung -yang memiliki cerita rakyat menarik. Kabarnya, bila ada pendatang yang mandi di kali Bedadung maka akan berjodoh dengan orang Jember. Tapi sayangnya, cerita menarik tersebut dibaluti dengan kondisi sampah berserakan ditepi kali Bedadung. Waktu itu saya melihat ada masyarakat yang mencuci baju dan anak-anak kecil sedang mandi. Tepat di sekitarnya ada tumpukan sampah rumah tangga. 

Bila kali Bedadung masih menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan hidup masyarakat, sanitasi yang buruk di kali akan menambah resiko terserang penyakit. Tepat di samping perkampungan padat sekitar kali Bedadung, dari atas jembatas Semanggi terlihat jelas Rumah Sakit Jember Klinik. Apakah keduanya tidak pernah berinteraksi?

Sampah menumpuk di tepi sungai Bedadung (Dok. Budi)

RS. Jember Klinik, terletak di sekitar pemukiman belantaran kali Bedadung (Dok. Budi)

Tidak jauh dari jembatan Semanggi, sebelah barat, terdapat mural petani bersama tembakau. Dan tentunya kretek khas indonesia sebagai kekuatan yang ingin dikenalkan. Akhir-akhir ini, pemerintah mengesahkan peraturan iklan mengerikan di kemasan rokok. Gambar yang dipasang bukan membuat takut, melainkan menjijikkan. Selain ketakutan visual yang mengerikan, teks yang ditaruh tidak lagi “Merokok Menyebabkan...” Melainkan “Merokok Membunuhmu.” Tanpa basa basi dan semakin terlihat tidak mendidik samasekali. 

Gambar mural tersebut saya rasa akan tetap membumi sampai kapanpun. Tidak usah terlalu jauh seperti apa permainan dagang melalui legitimasi WHO dan perusahaan farmasi. Realistis saja, hasil riset-riset kesehatan akan terbantah dengan sendirinya ketika mbah-mbah kita di rumah tetap merokok, dan tidak ada persoalan selebay iklan bahaya merokok. Bukankah masih banyak lagi produk yang lebih berbahaya daripada rokok? Selama masyarakat berpola hidup seimbang, saya rasa rokok tidak akan jadi soal. 

Mural yang mengajak untuk mencintai tembakau dan kretek (Dok. Budi)

Perjalanan membaca,kami lanjutkan di jalan PB. Sudirman, di sana terdapat halte yang sudah kusam. Tinggal sekat bekas telepon umum koin. Di belakangnya terdapat tembok bergambar anak kecil sedang bermain, burung, jerapah, taman dan gambar-gambar mendidik untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Ternyata itu milik sekolahan TK Kemala Bhayangkari 29.  Gambar-gambar tersebut secara tidak langsung bisa memantik siswa memiliki rasa ingin tahu dan mendidik karakternya. Saya rasa, itulah ruang publik yang ideal. 
Halte dan gambar ruang publik yang mendidik di jalan PB. Sudirman (Dok. Budi)

Kami juga menemukan lagi dua halte yang sudah tidak terawat, di jalan Trunojoyo arah ke Pasar Tanjung, dan barat bundaran Mastrib. Di Jalan Trunojoyo saya melihat masih tersisa dua pesawat telepon umum yang masih utuh. Entah masih berfungsi atau tidak, yang pasti masyarakat saat ini sudah beralih ke telepon genggam. Tapi saya rasa, telepon umum masih layak untuk dipertahankan serta dirawat keberadaannya. Ia menjadi salahsatu alat komunikasi yang biasanya digunakan untuk interaksi penting. Bukan hanya obrolan basa-basi. 

Terlihat dua pasang telepon umum masih dalam kondisi baik di jalan Trunojoyo. (Dok. Budi)
Alih fungsi, sebuah halte di barat bundaran Mastrib dipenuhi meja lapak pedagang (Dok. Budi)

Dari perjalanan saya dan Budi melewati beberapa jalan di kota Jember, ternyata ada banyak hal yang seringkali luput dari perhatian. Mulai dari persoalan jalanan macet, pedagang kaki lima, sampah di kali, seni visual, saya rasa semua merupakan bagian dari cerminan kondisi masyarakat Jember. Sebuah materi bacaan perjalanan yang tidak terpisah dengan realitas sekitar, dan tetap bebas dimaknai. Jadi tidak hanya lewat, lalu tetap acuh.   

Jember, 17 Juli 2014.

Selasa, 15 Juli 2014

Merawat Gumuk




Siang yang gersang. Tentu saja, karena kerongkongan mulut sudah mulai kering. Perut keroncongan. Tapi semua itu tidak jadi soal. Kami bertiga: Saya, Dian Cetar dan Budi bertekat untuk mendaki Gumuk Kerang. Sebuah Gumuk terbesar di pusat kota Jember. Tepatnya di kawasan jalan Tidar, Jember. Gumuk ini juga mudah dilihat dari jalan Karimata. 

Siang itu, sekitar pukul 14.00 WIB, kami jalan kaki menuju Gumuk Kerang. Perjalanan dimulai dari warung Macapat yang terletak di jalan Kalimantan. Memang cukup jauh bila berjalan kaki. Biasa, alasan masih puasa menjadi penyebabnya. Namun, saya tatap ngotot agar perjalanan tetap dilanjutkan. Sebelumnya, Budi dan Dian Cetar mengajak naik Gumuk yang ada di belakang Fakultas Tekhnologi Pertanian Universitas Jember, karena Lokasinya lebih dekat. Tapi Gumuk Kerang lebih eksotis. 
 
Perjalanan: masih berada di dalam area kampus UJ (Dok. Budi)

Perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Biasa sambil ngobrol tidak jelas sepanjang jalan. Sehingga tidak terasa lama. Untuk mempercepat sampai ke tempat tujuan, kami melewati gang samping kantor radio Prosalina. Melewati jalan sempit di antara gedung, perkampungan dan perumahan. Sebenarnya, saya sendiri belum tahu pasti jalan terabasan menuju Gumuk Kerang. Pokoknya asal lewat. Sekalian membuat kesan baru tetang perjalanan dengan sengaja tersesat terlebih dahulu. 

Saya hanya pura-pura tahu, lokasi Gumuk Kerang, bila melalui jalur terabasan ini. Lebih tepatnya bergaya sok tahu. Tapi anehnya, Si Budi dan Dian Cetar percaya saja. Hanya ada sedikit rasa ragu di kedua mimik muka mereka. Saat itu, saya berada di garda depan. Seolah memimpin perjalanan. Dalam hati, semoga tidak tersesat. Hari itu, saya sedang beruntung. Perjalanan berlalu mulus sampai di lokasi Gumuk Kerang. 

Saya mencoba mengamati lokasi Gumuk Kerang dalam-dalam. Di lereng Gumuk Kerang ternyata ada tempat pemandian umum. Ini menunjukkan bahwa, gumuk berfungsi sebagai penampung resapan air. Masyarakat sekitar secara tidak langsung, baik sadar maupun tidak, telah memanfaatkan keberadaan gumuk. Beberapa kali kami berpapasan dengan Ibu-ibu yang sedang mencuci baju menggunakan air sumber dan Bapak-bapak selesai mandi. 

Saya juga melihat beberapa pusara di lereng Gumuk Kerang. Nama orang yang meninggal di nisan sudah tidak terlihat. Barangkali sudah sangat lama. Bagaimana sejarahnya saya belum tahu pasti. Namun di beberapa gumuk yang saya temui di Jember, memang terdapat pusara atau pekuburan orang meninggal.
Kami memang sudah sampai di lokasi Gumuk Kerang. Namun kami masih bingung jalan mendaki Gumuk Kerang yang memiliki ketinggian lebih dari 50 meter ini. Dari bawah gumuk terlihat menjulang tinggi dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat. Keputusan diambil dengan mengelilingi gumuk, sambil mencari jalan mendaki. Saya juga melihat, beberapa pohon sengon dan perkebunan warga dengan tanaman subsisten di lereng Gumuk Kerang. 

Tidak lama kemudian, jalanan setapak mendaki gumuk sudah ditemukan. Ada beberapa bagian jalan yang terdapat batuan piring dengan kondisi pecahan kecil-kecil. Gumuk yang ada di Jember ini memang memiliki kandungan galian tambang. Seperti batu piring, batu pondasi, batu koral dan tanah. Untuk itu, gumuk menjadi rentan dieksploitasi. Bila dipandang secara ekonomis, gumuk memang bisa memberi keuntungan untuk beberapa orang saja. Namun, dampak negatifnya akan dirasakan masyarakat Jember. Terutama yang tinggal di kawasan gumuk. Jember memang sempat disebut sebagai kota seribu gumuk. Namun sayangnya sekarang sudah banyak yang rata dengan tanah. Semoga masyarakat bisa saling menjaga keberadaan gumuk. 

Dari beberapa informasi yang saya dapat dari Tabloid Ideas dan wacana ilmiah, gumuk berasal dari bekas aliran larva dan lahar dari Gunung Raung, kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Keberadaan gumuk sendiri  yang cukup banyak hanya terdapat di Jember dan Tasik Malaya, meski kabarnya juga sudah mulai habis. Padahal, selain berfungsi sebagai resapan air. Gumuk berfungsi sebagai penahan angin, penjaga keragaman hayati, iklim dan ekosistem rantai kehidupan hewan serta masyarakat. 

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kaki saya sudah mulai lelah. Setelah menemukan jalan mendaki Gumuk Kerang, saya mulai semangat lagi. Tapi apa benar pemandangan yang saya lihat ini. Pepohonan alami gumuk sudah banyak yang hilang, berganti tanaman sengon. Pepohonan di Gumuk Kerang memang tidak sepenuhnya habis. Apakah memang demikian keadaannya. Maklum, baru dua kali saya mendaki Gumuk Kerang. Namun, bila penebangan dilakukan hanya untuk menanam sengon agar cepat tumbuh saya rasa kurang bijak. Sebab, potensi erosi bisa saja terjadi. Tidak heran bila saat kami mendaki, jalanan setapak banyak terdapat kerikil. Lapisan tanah sepertinya mulai ada yang terkikis. 

Sekali lagi saya tetap sengaja sok tahu jalan mendaki gumuk J. Selain alasan semangat. Untuk itu saya berada di depan sendiri, disusul Dian Cetar lalu paling belakang sendiri Si Budi. Nafas saya mulai ngos-ngosan. Apalagi Budi sama Cetar. Tambah paraaah :).

Sampai di tengah perjalanan mendaki. Saya berhenti sejenak. Sekedar melihat indahnya kota Jember dari ketinggian Gumuk Kerang. Lalu tancap gas lagi. Saya tidak sabar melihatnya dari puncak. Dengan nafas terbata bata, saya sampai terlebih dahulu di puncak. Kota jember terlihat sangat jelas dari ketinggian. Pandangan saya melihat Jember bisa lebih bebas. Gunung Argopuro dan Semeru begitu tampak jelas dan eksotik. Bila melihat di bagian timur Gumuk Kerang, hamparan sawah terlihat seperti lukisan. Petak-petak sawah seperti puzzle  warna-warni.    

Kami bertiga duduk berselonjor menghadap barat. Memandang kota Jember dengan bebas sambil menunggu sunset. Angin berhembus semilir mengeringkan keringat dan menyembuhkan lelah. Jarang-jarang saya bisa merasakan segarnya oksigen seperti ini. Benar-benar murni. Tidak bercampur asap knalpot kendaraan. 

Bukti berada di atas Gumuk Kerang :). (Dok. Budi)

Pemandangan kota Jember dari puncak Gumuk Kerang. (Dok. oleh Dian Cetar)

Di puncak Gumuk Kerang terdapat jambu mete. Bila di kampung saya disebut jambu mente.Telihat sangat natural. Semoga saja tidak ada pendaki yang mengotori dengan meninggalkan sampah. Saya melihat ada bekas tumpukan kayu yang dibakar. Sepertinya ada yang baru menginap. Untung saja tidak ada sampah tertinggal. Berarti yang mendaki orang yang sadar kebersihan lingkungan dan berpendidikan tuuh  :).

Seperti biasa, dalam moment seperti ini kami menyempatkan diri untuk dokumentasi diri. Meski Budi pada mulanya berlagak acuh tidak mau difoto. Pada akhirnya dia yang paling bersemangat, saat Dian Cetar bilang kalau baterai Hp-nya sudah mulai habis. Budi sampai foto loncat-loncat. Menunjukkan kegirangannya. 
Budi sedang meloncat. (Dok. oleh Dian Cetar).


Kami pulang sekitar pukul 16.00 WIB. Dengan estimasi waktu sampai di Macapat sudah mendekati Maghrib. Saat perjalanan turun, saya beberapa kali terpeleset. Selain jalan yang berkerikil (barangkali sudah ter-erosi), sudah sangat jarang terdapat tanaman liar sebagai pegangan. Masak, tanaman sengon yang masih kecil mau saya jadikan pegangan. Kalau rusak, siapa yang tanggungjawab. 

Perjalanan pulang dipenuhi rasa lega. Namun sempat geleng-geleng kepala setelah melihat gumuk kecil di sekitar Gumuk Kerang yang sudah hampir habis. Ada beberapa makam yang nyaris roboh. Prediksi saya kalau tidak ada pusaranya pasti sudah dilahap habis gumuk tersebut.

Saya rasa, masyarakat Jember pada khususnya perlu mendapatkan penyadaran akan fungsi gumuk. Agar Jember tetap menjadi kota yang bagus ditanami tembakau. Tidak terkena angin puting beliung semakin parah, dan tentunya tidak kekeringan kebutuhan air. Saya menyinggung tembakau karena gumuk memiliki satu kesatuan dengan pertanian di Jember. Sebagai penyeimbang iklim.

 Persoalan gumuk memang kompleks. Gumuk rata-rata hanya dimiliki personal. Sehingga pemilik gumuk cenderung memiliki otoritas. Saya dan kawan-kawan berharap, gumuk di Jember tidak lagi dieksploitasi. Apalagi sampai dijadikan monumen. Apakah itu berarti Jember hanya akan ada beberapa gumuk saja? Gumuk tidak hanya dilindungi keberadaannya. Gumuk juga perlu dirawat ekosistemnya.
Perjalanan sore ini sudah tuntas. Saya, Dian Cetar dan Budi sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Menunggu Maghrib tiba. 


Jember, 14 Juli 2014.




Tiga Hari Meredam Ambivalensi




Malam ini sangat riuh. Orang berlalu-lalang mencari kesibukan yang entah apa itu namanya. Ada yang tersenyum tanpa sebab yang jelas. Ada teriakan-teriakan kecil yang sangat tanggung. Saya duduk sendiri di gazebo Macapat. Sengaja mencari kesunyian dan membuat jarak untuk sekedar membuat ruang privasi. Uforia Piala Dunia 2014 telah usai. Ada yang menangis, ada pula yang tetap tangguh menjunjung tinggi sportivitas. Kampanye presiden juga sudah usai. Tapi masih riuh sampai sekarang. Seolah tidak ada sportivitas dalam politik.

Sudah tiga hari ini saya menghabiskan waktu untuk mempelajari sistem pertanian hortikultur. Saya menyebutnya pertanian alternatif dan mandiri. Bila petani menanam segala jenis tanaman di sawah. Sistem hortikultur tidak harus memiliki lahan luas. Bukan pula untuk mendapatkan kebutuhan perekonomian. Ia hanya pertanian mandiri dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah. Media tanam yang digunakan cukup ekonomis. Bisa menggunakan barang bekas yang sudah tidak digunakan. Seperti botol plastik bekas air mineral dan jenis kaleng yang bisa dimanfaatkan untuk pengganti polybag atau pot. 

Dalam tiga hari kemarin, saya  jalan-jalan di youtube untuk belajar bagaimana membuat pupuk organik. Mulai dari pembuatan kompos limbah rumah tangga, sampah organik seperti dedaunan yang seringkali mengotori halamain rumah. 

Saya merasa, Jalan-jalan di dunia maya seringkali membosankan. Bila aktifitasnya terlalu monoton. Misalkan hanya melihat status kawan. Melihat judul-judul berita sensasional dan sesekali membukanya. Barangkali itu yang dikatakan Yasraf Amir Piliang dalam buku dunia yang dilipat. Manusia menjadi objek, bukan subjek. Seolah tanpa sadar kita tergerus laju arus informasi tanpa ada pertimbangan dari dirisendiri untuk memutuskan informasi apa yang akan kita cari tahu. Seringkali informasi tersebut ditelan mentah-mentah tanpa ada proses ferivikasi untuk mencari kredibelitasnya.

Untuk itu saya memutuskan menjadi subjek. Setidaknya ogah dipermainkan media sosial yang bisa menjerumuskan saya di liang kebingungan dan keresahan. Namun bukan berarti saya tidak mau turut aktif memanfaatkan media sosial sebagai kanal berbagi dan mencari informasi. Hanya saja, saya masih seringkali merasa dibuat tidak berguna bila mengikuti percepatan informasi di media sosial. Selain itu, beberapa kawan saya juga seringkali melakukan aktifitas yang tidak didasari pertimbangan rasional dalam aktifitas dunia maya. Misalkan saja, baru bangun tidur langsung buka facebook. Entah apa yang dicarinya. 

Ini hanya sedikit pledoi saya. Mengapa tiba-tiba mau fokus mencari informasi sesuai kebutuhan dalam tiga hari ini. Selain persoalan ambivalensi akut di dalam pesta demokrasi. Informasi di media sosial yang saling menjatuhkan untuk kepentingan politis dalam pemilu presiden, seringkali lenggang kangkung di beranda media sosial. Memang tidak menjadi persoalan. Itu sah dalam demokrasi. Hanya saja harus berani bertanggung jawab. 

Agar tidak menjadi generasi yang gagal paham dan tertinggal informasi kekinian. Masing-masing dari kita memang harus berani mengkonsumsi informasi sampah sekalipun. Setidaknya, bisa menjadi objek dan bahan kritik. Namun tidak terus menerus tenggelam dalam arus informasi tersebut.

Kembali ke perjalanan saya, mengapa pertanian menjadi isu yang menarik bagi saya daripada hanya mengamati laju informasi di media sosial. Sebenarnya iseng saja, daripada terus-terusan mengikuti percepatan informasi  tanpa tujuan jelas. Seperti yang kita tahu, berbagai macam persoalan tercampur aduk menjadi satu. Ada persoalan politik, budaya, cinta, sampai persoalan pribadi melankolis dan amarah.

Di sekitar keriuhan monoton ini. Saya mengajak Budi Setiono, kawan saya dari STAIN Jember untuk menulis bareng. Akhir-akhir ini saya merasa Budi juga tenggelam dalam percepatan informasi. Seringkali ia marah-marah sendiri bila ada informasi politik hoax dari salah satu kubu calon presiden. Kemarahannya menguap begitu saja. Meski saya sendiri kadangkala juga begitu :).

Perjalanan saya di youtube, ternyata cukup menyenangkan. Ada banyak informasi baru yang sebelumnya tidak saya mengerti. Apalagi soal pertanian. Saya bisa merasakan, bagaimana enaknya mendapatkan informasi yang fokus. Meski terdapat perbedaan sumber, informasi yang diberikan hanya bersifat saling melengkapi.  Mulai dari pengalaman siswa SMA, mahasiswa, dan petani dalam membuat pupuk organik.

Malam ini, dan untuk selanjutnya, setidaknya ada bentuk kesadaran pribadi untuk menjadi subjek seutuhnya. Bisa tetap mengkonsumsi percepatan informasi tanpa terperangkap dalam tempurung media mainstream. Dalam artian, bisa memanfaatkan informasi sebagai kanal ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan pribadi dan jaringan sosial. Misalnya, bila saya membutuhkan informasi seputar pertanian hortikultur, saya bisa menerapkannya di rumah. Bila saya pulang nanti. 

Saya hanya merasa, buat apa belajar bila tidak ditulis. Bila tidak didiskusikan. Bila tidak diterapkan untuk kepentingan bersama. Semoga saja, dari hasil belajar membuat pupuk organik dan pertanian hortikultur saya bisa membuat taman sayuran di rumah :).
 
Jember, 14 Juli 2014.