Senin, 15 Oktober 2018
Sabtu, 10 Oktober 2015
Untuk Hujan Sore Ini
Hari ini hujan turun lebat sekali. Saya rasa ini hujan paling lebat sepanjang kemarau bulan Agustus sampai sekarang. Bahkan terasa baru kali ini ada hujan turun, saat saya melihat kedatangannya dari bibir pintu. Barangkali karena saya sudah lama merindukannya. Hujan datang bersama angin yang kencang, menjadikan butiran air hujan yang sedang melesat turun tidak beraturan, ada yang besar dan kecil. Udara yang
biasanya panas, sejak sore tadi langsung menjadi dingin menyegarkan. Ini adalah
pengalaman yang tidak boleh saya lewatkan. Makanya saya tadi langsung melihat
keluar, seperti apa kedatangan hujan ini. Hujan telah saya rindukan sejak
beberapa bulan ini.
Rasaya bukan hanya saya saja yang sudah lama merindukan
turunnya hujan. Semua orang dari beragam status sosial baik yang berhubungan
dengan profesinya langsung dan tidak seperti: petani, peternak, buruh,
pedagang, mahasiswa, guru, dokter, militer, pejabat birokrasi, dan masih banyak
lagi, semua membutuhkan hujan. Sebab dari hujan, petani bisa kembali lancar
mengairi sawahnya, peternak sapi tidak
lagi kebingungan mencari rumput karena sebentar lagi akan tumbuh lebat, dan
dari semua itu, kita sendiri dan semua makhluk hidup tidak akan mengalami
krisis air. Bila hujan sudah turun begini, sumur-sumur akan kembali memenuhi
airnya.
Kali ini hujan memang terasa disambut dengan kegembiraan, setelah sekian bulan kebanyakan orang telah merindukannya. Apalagi untuk di kawasan bencana asap akibat api yang sulit dipadamkan membakar lahan di sejumlah wilayah Sumatera saat ini. Semoga sore tadi, hujan juga hadir di sana untuk memberi bantuan.
Mengenai hujan, pada 5 Februari 2011, ternyata saya juga pernah menulis soal hujan di musim penghujan masih berlangsung. Melihat tulisan lama, rasanya itu adalah saya yang lain haha. Berikut saya copy di paragraf bawah, tanpa saya rubah.
***
Kali ini hujan memang terasa disambut dengan kegembiraan, setelah sekian bulan kebanyakan orang telah merindukannya. Apalagi untuk di kawasan bencana asap akibat api yang sulit dipadamkan membakar lahan di sejumlah wilayah Sumatera saat ini. Semoga sore tadi, hujan juga hadir di sana untuk memberi bantuan.
Mengenai hujan, pada 5 Februari 2011, ternyata saya juga pernah menulis soal hujan di musim penghujan masih berlangsung. Melihat tulisan lama, rasanya itu adalah saya yang lain haha. Berikut saya copy di paragraf bawah, tanpa saya rubah.
***
Saya hanya ingin berbagi rasa untuk pagi yang terlanjur siang ini. tanpa kopi, tanpa rokok.
Jember yang basah, sudah hampir tiga bulan sejak Desember 2011 lalu, hujan menemani. Belum satupun kata terdengar dari media maupun teman-teman di sekitar saya yang merasa senang kepada hujan. memang, bisa jadi hujan menjadi salah satu penyebab kegagalan aktivitas, atau menjadi bermalas-malasan. Selalu merasa kantuk dan tidur pada malam yang terlalu dini.
Sewaktu mengendarai sepeda motor di jalanan, atau barang kali sedang berduaan dengan sang kekasih di sudut sudut persembunyian. Tentu memiliki makna yang berbeda ketika hujan mengguyur kedua aktivitas tersebut. Bisa jadi pengendara di jalanan akan berhenti dengan penuh cemas, dengan berbagai tujuan yang belum terselesaikan sambil menunggu hujan reda. Kemudian pasangan sejoli akan merasa lebih nyaman dan saling berdekapan tanpa ragu. Hanya sebuah kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Kali ini saya sedang ingin bercumbu dengan menggandrungi hujan terlebih dahulu. Tidak ada alasan untuk mengeluh atau barangkali menghujat hujan. Ketika segala aktivitasmu tiba-tiba terhenti karena hujan yang belum kalian inginkan turun. Hujan hanyalah sebuah siklus alamiah yang sewaktu-waktu bisa terjadi, tidak memiliki perasaan layaknya manusia. Tetapi berubahan siklus iklim yang tidak beraturan bisa disebabkan oleh aktivitas manusia yang merugikan alam.
Jember yang basah, sudah hampir tiga bulan sejak Desember 2011 lalu, hujan menemani. Belum satupun kata terdengar dari media maupun teman-teman di sekitar saya yang merasa senang kepada hujan. memang, bisa jadi hujan menjadi salah satu penyebab kegagalan aktivitas, atau menjadi bermalas-malasan. Selalu merasa kantuk dan tidur pada malam yang terlalu dini.
Sewaktu mengendarai sepeda motor di jalanan, atau barang kali sedang berduaan dengan sang kekasih di sudut sudut persembunyian. Tentu memiliki makna yang berbeda ketika hujan mengguyur kedua aktivitas tersebut. Bisa jadi pengendara di jalanan akan berhenti dengan penuh cemas, dengan berbagai tujuan yang belum terselesaikan sambil menunggu hujan reda. Kemudian pasangan sejoli akan merasa lebih nyaman dan saling berdekapan tanpa ragu. Hanya sebuah kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Kali ini saya sedang ingin bercumbu dengan menggandrungi hujan terlebih dahulu. Tidak ada alasan untuk mengeluh atau barangkali menghujat hujan. Ketika segala aktivitasmu tiba-tiba terhenti karena hujan yang belum kalian inginkan turun. Hujan hanyalah sebuah siklus alamiah yang sewaktu-waktu bisa terjadi, tidak memiliki perasaan layaknya manusia. Tetapi berubahan siklus iklim yang tidak beraturan bisa disebabkan oleh aktivitas manusia yang merugikan alam.
Senin, 11 Mei 2015
Mustakim, Buku, dan Guru Kehidupan: Bagian 2
Sore ini, saya kembali lagi ke rumahnya Pak Mustakim
untuk mengambil kembali buku pesanan. Ia terlihat duduk sambil nonton televisi.
Setelah melihat saya datang, ia kemudian mengambil air mineral gelasan, “Diminum
dulu airnya.”
![]() |
| Pak Mustakim sedang sibuk mencarikan sebuah buku, doc. pribadi. |
Buku “Lubang Buaya” yang saya beli ternyata
bukan ditulis oleh Nugroho Notosusanto, tapi oleh Yusuf A. Puar. Pada bagian
bawah daftar pustaka, tertulis kutipan SK Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan
Menengah, Departemen Penerangan dan K No. 1.3.055 Kep. 75 tgl. 12 Desember
1975, yang berisi“Buku ini ditetapkan
sebagai buku bacaan SD tingkat Nasional.” Diterbitkan oleh Pustaka Antara
Jakarta tahun 1977.
Sekedar sebagai referensi, cukup dengan 10.000 ribu
buku tersebut bisa saya dapatkan di lapak Mustakim.
Kemudian ada buku “Perang Gayo Alas Melawan
Kolonialis Belanda” karya M.H Gayo yang dihargani 20.000 ribu. Saya tertarik
ingin membeli, sekedar penasaran tetang sejarah lokal masyarakat Gayo yang ada
di Aceh. Buku tersebut mengemas sejarah perjuangan masyarakat Gayo melawan penjajahan
Kolonial Belanda.
Saya mengenal nama Gayo saat menikmati kopi Aceh
Gayo di warung Srawung milik Pak Caplin. Nantinya buku “Perang Gayo Alas
Melawan Kolonialis Belanda” ini akan saya resensi, lebih pas bila sambil minum
kopi asli Aceh Gayo.
Dalam pengantar buku dijelaskan secara singkat bahwa
perang Aceh berlangsung selama 31 tahun Sejak 1873. Sampai pada 1904 yang
merupakan perjuangan terpuncak masyarakat Aceh di alas Gayo, sebagai benteng
pertahanan terakhir. Namun dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa masyarakat
Aceh tidak pernah menyerah sampai Belanda hengkang digantikan fasisme Jepang pada
1942. Indonesia memang tidak benar telah dijajah sepenuhnya selama 350 tahun.
Sambil sekilas membaca, Mustakim terlihat mematikan
televisi lalu memutar lagu di tape
recorder yang disambungkan ke sound. Lagu-lagu Koes Plus terdengar lembut
ditelinga.
Seperti biasa, Mustakim mengajak ngobrol banyak hal.
Tak lama kemudian ia mengabil foto dan Majalah. Foto tersebut ternyata tentang
dirinya yang sedang duduk di samping toko bukunya, saat masih ada di sebelah Jembatan
Jompo sekitar tahun 80an. Rambutnya masih terlihat hitam tebal, dengan jenggot
dan kumis lebat. Sedangkan isi majalah sendiri tentang satu rubrik liputan
khusus yang mengulas Mustakim dan lapak bukunya. Majalah Religia tersebut merupakan karya mahasiswa IAIN Sunan Ampel.
Keterangan lainnya sudah tertutup plester yang dilekatkan Mustakim sendiri.
![]() |
| Pak Mustakim dulu dan sekarang, doc. pribadi |
![]() |
| Mustakim sedang duduk di toko bukunya yang terletak di kawasan Jembatan Jompo, doc. pribadi, (saya foto ulang) |
Semua buku yang dijual mustakim, bagian cover semua
dilapisi plester. “Takut kena air, biar rapi, kan eman kalau sampai rusak,”
jelasnya. Caranya menghargai buku bermula saat Mustakim membaca sebuah cerita
tentang Bung Hatta. Ia sudah lupa membaca buku berjudul apa. Menurutnya, Bung
Hatta akan marah bila ada bukunya yang dipinjam, lalu cara menandai saat
membaca dengan melipat bagian halaman. “Kalau beliau tahu pasti marah, dan
tidak akan dipinjamkan lagi.”
Sama seperti kemarin, ada obrolan yang sebenarnya
sudah ia katakan. “Mumpung masih muda, bacalah buku, pokoknya baca wis,”
sarannya. Mustakim kemudian mengibaratkan, bila sudah tua seperti dia baru
membaca, akan susah mengingat-ingat, ibaratnya seperti melukis di atas air.
Beda dengan yang masih muda, itu ibarat mengukir di batu, akan tahan lama.
Baru tadi saya menanyakan, bila ia sudah berjualan
buku sejak 1963, lantas Mustakim sebenarnya lahir tahun berapa. Ia coba
mengingat-ingat, dan keluarlah angka 1949. Berarti, Mustakim sudah berjualan
buku sejak berumur 14 tahun. Ia menikah pada tahun 1971 diusia 22 tahun. Kemungkinan,
ia baru bisa belajar membaca setelah menikah.
Banyak hal yang tidak terlupakan di masa-masa ia baru
menikah. Tantunya soal himpitan ekonomi. Dari buku, ia belajar tetap bertahan.
Tahun 1981, Mustakim baru bisa merenovasi rumahnya. Di dalam rumah itu lah
sekarang saya duduk bersama Mustakim.
Dan sekarang, saya ada di Macapat, melihat
slogan perpustakaan Macapat yang mengutip ungkapan Bung Hatta“Aku rela dipenjara, asalkan
bersama buku. Karena dengan buku aku bebas.”
![]() |
| Saya dan Pak Mustakim, doc. pribadi |
10 Mei 2015.
Minggu, 10 Mei 2015
Mustakim, Buku, dan Guru Kehidupan: Bagian 1
Pak Mustakim, seorang lelaki tua tak berpendidikan
namun memiliki hobi membaca. Tidak ada catatan ijazah dari lembaga pendidikan
yang mengajarinya baca dan tulis. Hobi membaca Mustakim muncul setelah
memutuskan untuk berdagang buku-buku bekas pada 1963. Sebuah jaman yang masih
berada di bawah kepemimpinan presiden Soekarno.
Sampai sekarang Mustakim masih berjualan buku bekas di
rumahnya sendiri. Ia tinggal di sebuah perumahan padat dengan jalan gang sempit
di dearah Gebang, Jember. Ruang tamunya dirubah menjadi lapak buku yang ditata
di rak-rak tua. Ada pula yang digantung di dinding menggunakan penjepit dan
tali.
Sebagian besar, buku-buku yang dijual berisi tentang
ilmu-ilmu ekonomi: manajemen, akutansi, ada pula ulasan motivasi kehidupan dan
tips berwirausaha.
Saya datang ke rumah Mustakim sore tadi, mengamati tumpukan
buku-buku yang dijual. Sekitar 10 menit, saya masih belum menemukan buku keren
tentang sejarah. Bagi Mustakim, buku sastra dan sejarah memang paling sulit
dicari. Untuk itu, ia menaruh buku-buku sastra dan sejarah di bagian pojok. Tepat
di belakang tempat duduknya. Bila tidak bertanya, maka buku-buku tersebut akan
tertutupi oleh badannya yang sudah keriput termakan usia.
Berawal dari situ, ia mulai bercerita banyak hal tentang
dirinya. Saya pun mendengarkan sambil membaca buku-buku sejarah yang ia
sodorkan dan sesekali bertanya tentang perjalanannya berjualan buku.
Mustakim mulanya memang tidak bisa membaca buku.
Sebelum tahun 1963, ia bekerja sebagai loper koran. Suatu ketika, di kawasan
jalan Jompo ia melihat buku-buku yang dijual. Lalu ia berpikir, sebagai seorang
pribumi yang tidak berpendidikan, tukang loper koran, dan harus membiyayai kebutuhan
hidup sendiri setelah orang tuanya meninggal. Buku menjadi awal dari
perjalanannya membuka wawasan pengetahuan tentang kehidupan. Bahwa munculnya rasa
takut, sedih, gelisah dan sebangsanya itu, berawal dari ‘ketidaktahuan’. Bahasa
lainnya bisa disebut kebodohan.
Mustakim hanya ingin membeli buku dengan harga-harga
terjangkau, kemudian ia jual kembali. Sampai puncaknya, tahun 1984 ia gulung
tikar. Buku-buku yang ia borong dari Surabaya dan Malang ternyata sudah tidak
laku. “Soalnya guru-guru tidak mau membeli, alasannya ada perubahan kurikulum
pendidikan, jadi sudah tidak berguna lagi,” ungkap Mustakim.
Dua tahun berhenti kerja, hanya jadi pengangguran, “Untung
istri saya sabar,” kenangnya sambil terkekeh, terlihat gigi depannya yang hanya
tersisa satu biji. Menyadari dirinya tidak punya keterampilan kerja selain
berjualan buku, ia coba kembali berdagang lagi. “Apa saja saya jual Mas, kursi,
perabot rumah, sampai celana saya jual untuk beli buku,” ceritanya. Sejak saat
itu, ruang tamunya dipenuhi buku, bukan sofa dan meja.
Pertama kali saya sampai di depan rumah Mustakim, saya sama
sekali tidak tahu kalau ia jualan buku. Di depan rumahnya hanya ada dagangan
rujak, milik istrinya.
Ia baru bisa membaca buku ketika ada seorang guru bahasa
Inggris mengajarinya membaca dan menulis. Guru tersebut sempat menawarkan Mustakim
untuk belajar bahasa Inggris, tapi ia hanya tersenyum. Relasinya dengan pembeli
buku seperti mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat umum membuat ia mendapat
kesempatan untuk belajar membaca. Ketika saya tanya sejak kapan ia belajar
membaca, ia sudah lupa. Tapi yang pasti sebelum tahun 1984, sewaktu ia gulung
tikar.
Buku, bisa jadi merupakan istri kedua Mustakim. Setiap
menghadapi persoalan kehidupan, ia membaca buku sebagai jalan perbaikan. Buku-buku
yang pernah memberi pencerahan berpikir ia simpan dan tidak dijual, “Buku-buku
yang saya simpan, nanti akan saya berikan untuk anak saya.”
Selepas makan rujak buatan istrinya, saya kembali mencari
buku-buku sejarah yang bermutu. Setidaknya, buku yang dapat memberi jalan
terang untuk penulisan tugas akhir saya. Mustakim masih duduk di tempatnya,
sambil mendengarkan lagu-lagu milik Ebiet dan D’lloyd.
Saat giliran lagu “Hidup Di Bui” milik D’lloyd berbunyi, merampas
suara hujan di luar rumah, saya coba tanya, apakah Mustakim tahu kalau lagu
tersebut pernah dilarang sama pemerintah Orde Baru. Ia tidak tahu, pokoknya
suka saja.
Di tangan saya, sebuah buku sejarah tulisan Nugroho
Notosusanto berjudul “Lubang Buaya” terbitan Balai Pustaka tahun 80an yang
diperuntukan untuk siswa SD, membuat saya teringat ulasan Hesri Setiawan,
mantan Tapol Pulau Buru yang menulis tentang lagu “Hidup di Bui”. Lagu tersebut
dilarang pemerintah Orde Baru karena menceritakan kehidupan Tapol di
Nusakambangan dan Buru yang penuh penderitaan. Sedangkan tulisan-tulisan Nugroho
Notosusanto yang didukung pemerintah Orde Baru, bila dibaca saat ini bisa
mencipta pemaknaan bahwa golongan para Tapol merupakan orang-orang berkhianat
dan tidak perlu dikasihani.
Dari catatan Hesri Setiawan, saya baru tahu kalau adanya
pelarangan terhadap lagu “Hidup di Bui”membuat beberapa baris syairnya harus
dipoles ulang, seperti pada bagian “Apalagi penjara di Tangerang” menjadi “Apalagi
penjara jaman perang.”
Banyaknya pelarangan oleh pemerintah Orde Baru tentang pengungkapan
fakta-fakta kemanusiaan dalam penulisan sejarah, membuat minimnya jumlah
buku-buku yang benar-benar akademis dan bernutrusi. Seperti di lapak Pak Mustakim,
hanya ada beberapa buku-buku terbitan era Orde Baru –yang bagi saya menyehatkan
bila dibaca.
Mustakim kemudian mengiyakan permintaan saya, bila mendapat buku-buku
sastra dan sejarah yang baru didapat, ia akan memberi kabar. Hal ini memberi
satu rekomendasi untuk diri sendiri dan siapapun, bahwa di lapak buku bekas,selain
harganya miring, kita bisa mendapatkan buku-buku lama untuk memperbanyak data
kepustakaan yang terbit dalam beragam jiwa jaman.
Menemukan
Kebijaksanaan
Pada masa-masa tersulit mustakim mencukupi kebutuhan hidup,
rumahnya yang mulanya hanya terbuat dari anyaman bambu membuat orang-orang
enggan masuk ke dalam. Saya tidak tahu pasti siapa orang-orang yang enggan
masuk itu. Tapi dengan membaca buku, Mustakim menjadi tahu bahwa ilmu
pengetahuan, kebijaksanaan dan rasa kemanusiaan itu tidak bisa dipamerkan. Sedangkan munculnya rasa takut, sedih, gelisah dan sebangsanya itu, berawal dari ‘ketidaktahuan’. Bahasa lainnya bisa disebut kebodohan.
Setelah rumahnya direnovasi, baru orang-orang tersebut mau
masuk. Dari pengalamannya itu, Mustakim mengajarkan kepada anaknya bahwa jangan
menilai apapun dari kemasan yang tampak, tapi nilai-lah isinya. “Makanya Mas,
mumpung sampyn masih muda, banyak-banyaklah membaca.”
Bagi saya Mustakim tetap seorang yang berpendidikan. Ia seorang
terdidik yang tidak terjerat dalam lingkaran ketergantungan belajar di lembaga
pendidikan. Gurunya adalah setiap penulis buku yang ia baca. Baginya membaca
merupakan bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan, “Kanjeng Nabi sendiri, itu pertama
kali mengajarkan bukan salat, tetapi membaca.” Dan saya hanya diam melongo sambil mengangguk-angguk.
Hujan di luar sudah reda, sedangkan saya dan Mustakim di dalam
ruangan yang dipenuhi buku-buku masih ngobrol santai diiringi lagu-lagu tahun
70an. Ia kembali bercerita tentang kebaikan buku bagi kehidupannya. Tidak hanya
bisa menambah wawasan untuk menjawab persoalan-persoalan di sekitarnya, ia juga
sempat ditolong ketika terhimpit persoalan ekonomi.
Saat istrinya melahirkan, si bayi belum bisa dibawa pulang
karena Mustakim belum lunas membayar biaya persalinan. Buku, akhirnya menjadi
jalan pintas untuk menebus anaknya waktu itu.
Selama ngobrol dengan
Mustakim, saya tidak menemukan ungkapan yang bersifat pamer. Ia malah
berulangkali menyebut dirinya dengan diksi kasar, “masih bodoh” atau tidak tahu
apa-apa, sama kayak Socrates.
Barangkali ia tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi
guru untuk saya sore itu.
Pukul 16.30 saya pamit pulang, ia mengantar sampai
depan rumah. Eh, saya baru tahu kalau sepeda motor kami tadi sewaktu hujan
telah diselimuti mantel sama Mustakim agar tidak pilek. Terimakasih Mustakim,
atas rasa kemanusiaanmu sadel motor kami tetap kering.
Jember, 09 Mei 2015.
note: sebenarnya saya datang tidak sendiri, tapi sama Cetar dan Yudis :)
Kamis, 05 Februari 2015
Kopi Dingin
Minggu sore, saya bersama teman-teman Macapat pergi
ke Ijen, untuk sekedar berkunjung ke warung kopi. Perjalanan dimulai pukul
15.00 WIB. Cuaca mendung bercampur panas, udara terasa lembab. Sesampai di
kawasan jalan menuju Gunung Ijen, udara mendadak berubah sejuk dan dingin.
Tidak ada balutan gerah atau panas sedikitpun. Hujan dan dingin menyiksa
perjalanan sampai di Paltuding, tujuan akhir tempat kami mencari warung kopi.
![]() |
| Mampir di Pos penjagaan. Doc. Irvan |
Tidak ada perlengkapan layaknya pendaki Gunung Ijen.
Kami berempat, saya, Cetar, Irvan dan Fatih hanya mengenakan celana panjang,
kaos dalam, mengenakan jaket, beralas sandal, tanpa tas dan tentunya tanpa
tenda. Selama perjalanan kami memang diguyur hujan. Mantel kelelawar menjadi
satu-satunya alasan mengapa perjalanan terus dilanjutkan. Sesampai di Sempol,
perut benar-benar terasa lapar, mata perih, dan tentunya badan sudah menggigil
kedinginan.
Selama perjalanan, hujan tentunya bukan menjadi
satu-satunya soal buat kami. Tapi dingin dan kabar tentang adanya longsor serta
banjir bandang membuat kami berpikir ulang di meja makan. Empat nasi rawon
panas satu persatu disajikan. Kabar adanya banjir tersebut datang dari seorang teman
bernama VJ Lie. Kami kebetulan bertemu di warung makan yang sama. VJ Lie bercerita,
sepedanya baru hanyut tersapu banjir bandang. Kejadiannya Sabtu sore (31/01),
saat VJ Lie bersama seorang teman sedang lewat di kawasan Curah Macan
menggunakan sepeda motor, tiba-tiba banjir bandang datang dan membuat sepedanya
hanyut. Untung saja dia melepas sepedanya dan memilih untuk menyelamatkan diri.
Kondisi sepedanya rusak parah, setelah dicari oleh warga sekitar.
Setelah bertukar cerita, kami disarankan untuk
mengunjungi rumah Pak Titus yang tinggal di Curah Macan, bila ingin menikmati
kopi tubruk arabica. Pak Titus merupakan orang yang menjemput VJ Lie di lokasi
kejadian untuk diajak kerumahnya. “Tapi kalau sudah pukul 22.00 WIB, listrik di
sana sudah mati,” ungkap VJ Lie, yang membuat kami jadi ragu berkunjung ke
rumah Pak Titus. Selain arah jalan yang belum kami ketahui. Waktu sudah
menunjukkan sekitar pukul setengah delapan malam. Mau pulang tidak mungkin
karena jauh dan sudah kedinginan. Mau ke rumah Pak Titus tidak enak karena
sudah terlalu malam. Keputusan tetap teguh, menuju Paltuding untuk mencari warung
kopi dan tempat bermalam. Meski jarak tempuh kurang lebih masih satu jam lagi.
Selama perjalanan menuju Paltuding, gerimis masih
mengguyur. Kabut tebal agak mengganggu jarak pandang kami. Belum lagi aspal
yang basah dilumuri bekas erosi membuat permukaan licin. Beberapa titik lokasi
terlihat lumpur tebal di atas jalan, bekas banjir yang sudah surut. Selain itu,
ada juga yang longsor hampir menutupi jalan. Memang harus hati-hati karena sebelah
kiri tebing dan sebelah kanan sudah jurang.
Sesampai di Paltuding, tidak terlihat ada penerangan
lampu samasekali. Hanya sorotan lampu penjaga gerbang mencoba memberi petunjuk
jalan masuk. Tidak seperti yang kami bayangkan. Setelah memarkir motor yang
sudah tanpa penjaga, kami melihat warung kopi sudah tutup. Beberapa orang yang
mau mendaki Gunung Ijen terlihat berkumpul di tendanya masing-masing.
Suasananya benar-benar sepi, gelap dan dinginnya membuat gigi bergetar.
Kami
mencoba menyisir tempat, barangkali ada tempat duduk kosong. Tidak lama
kemudian ada dua orang yang datang ke warung dengan sorot senter, terlihat
mencoba membangunkan pedagang warung. Entah apa yang dibelinya, kami memanfaatkan
momentum tersebut untuk datang dan memesan kopi panas. Setidaknya bisa
terpenuhi bisa ngopi di lereng Gunung Ijen. Meski pikiran masih bingung, di
mana harus tidur di tengah kondisi dingin dan baju setengah basah.
***
Sekitar satu jam duduk di warung kopi Paltuding,
terlihat seorang petugas sedang menghidupkan ganset. Lampu menyala, dan
terlihat muka pucat teman-teman. Bila berbicara, seperti asap putih sedang
keluar bersama nafasnya. Si Fatih, sesekali memainkan asap yang sebenarnya
adalah nafasnya sendiri dari mulutnya, “Kayak asap rokok ya,” ungkapnya sambil
tertawa kecil. Suasana sial jadi hilang sekejap.
Ada satu pesan dari pedagang warung yang belum
sempat kami tanya namanya, “Kalau duduk, ngopi di sini gak papa, pokoknya
jangan rame.” Mengingat ungkapan tersebut, kami tidak berani tertawa kencang
bila bergurau. Takut diusir, mau ke mana lagi bisa duduk dan tidur kalau tidak
di warung.
Dari kejauhan, terlihat dua orang baru saja memarkir
motor kemudian berjalan menuju warung tempat kami duduk. Mereka berbadan tegap,
memakai jaket hitam tebal, celana panjang, sarung tangan dan syal di bagian
leher. Keduanya terlihat ramah setelah memesan kopi dan duduk di samping kami.
Perkenalan, basa-basi, obrolan ringan, tertawa lepas sampai dimarahi pedagang
dan berujung keakraban, merupakan serangkaian perjalanan yang membuat kami bisa
tidur di tenda mereka. Ini bukan strategi merayu atau meminta tumpangan tidur,
tapi kami ditawari. Entah apa alasannya, mungkin kasihan.
![]() |
| Dalam kepungan gigil dingin dan gelap. |
![]() |
| Ngopi bersama teman baru dari Lampung. Doc, Irvan |
Masing-masing dari kami belum sempat berkenalan.
Kami hanya tahu asal dua pria yang berencana akan mendaki Gunung Ijen tersebut.
Keduanya berasal dari Lampung, namun fasih berbahasa Jawa. Katanya sudah
terlalu banyak orang-orang Jawa yang bermigrasi ke Lampung, termasuk keluarga
mereka sendiri.
Cangkrukan dilanjutkan di tempat lain, sambil
mendirikan tenda, agar tidak mengganggu pedagang warung yang sedang istirahat. Setelah
tenda didirikan, makan mie rebus bersama sambil menikmati kopi tubruk manis,
sepertinya sudah ada rasa saling percaya. Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami
dipercaya dan dipersilahkan tidur di tendanya sambil menunggu mereka turun dari
Gunung Ijen. Belum lagi masih ditawari buat kopi dan mie sendiri bila ingin.
Sudah dapat tumpangan tidur di tenda, lengkap dengan sleeping bed, sama makanannya lagi. Tuhan maha pengasih.
Minum kopi di lereng Gunung Ijen terasa nikmat,
namun hanya sebentar. Temperatur panas kopi di gelas sangat cepat berubah
dingin. Hanya beberapa menit sudah jadi kopi dingin. Lidah tidak terasa panas,
meski menyeruput kopi yang baru disajikan. Ditambah cemilan pisang goreng. “Banana Preeet,” ungkap pedagang warung
mencoba menirukan bahasa wisatawan asing. Itulah yang kami lakukan di pagi
hari. Menikmati pagi bersama kopi dan pisang goreng di warung kopi lereng
Paltuding, setelah semalaman kedinginan tidak bisa tidur.
![]() |
| Cetar terlihat kedinginan, mata lebam, sedang menikmati kopi di pagi hari. Doc, Irvan |
![]() |
| Ulil dan Irvan berada di dalam tenda, menunggu teman dari Lampung turun gunung. Doc, Cetar |
Baru pukul 10.00 siang, dua orang Lampung baik hati
tersebut terlihat baru sampai di tenda. Mukanya terlihat lelah setelah naik turun
Gunung Ijen. Duduk-duduk sebentar, kami kemudian mengucapkan terimakasih, pamit
pulang dan berharap bisa bertemu lagi. Selanjutnya, tinggal memikirkan antara
melenggang pulang atau berkunjung ke rumah Pak Titus. Hanya penasaran,
bagaimana rasa kopi arabica di sana.
***
Tidak kami sangka, rumah Pak Titus benar-benar
menyenangkan. Sejuk dan ditaburi pemandangan gunung yang indah. Benar-benar
seperti lukisan. Kami duduk dan disuguhi kopi arabica. Aromanya harum dan
kental. Pak titus menunjuk ke arah gunung. “Itu yang membuat sepeda VJ Lie
terseret banjir bandang,” ungkap Pak Titus dengan dialek Madura. Terlihat dari
kejauhan, petak-petak berwarna hijau di gunung. Sebagian terlihat gundul
seperti belum ditanami. Menurut Pak Titus, itu merupakan kerjaan warga yang
membuka lahan di lereng dengan kemiringan rawan longsor, “Itu ditanami gubis,
sekarang lagi musim gubis.” Entah “warga” siapa yang dimaksud Pak Titus
tersebut.
![]() |
| Kondisi Sepeda VJ, Doc. Irvan |
Menurut Pak Titus, baru tahun ini ada kejadian
longsor dan banjir bandang. Sebelumnya belum pernah. “Jadi, kalau misale hujan,
mending sampeyan berhenti. Nunggu hujannya reda,”tutur Pak Titus sebelum kami
pamit meninggalkan rumahnya.
Jember, 4-02-15
Sabtu, 13 September 2014
Jalan Hidup Perempuan Sebatang Kara
![]() |
| Mbah Mi, sedang duduk santai di lincak (dok. pribadi) |
Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh
negara, itu bunyi perjanjian negara dengan rakyat Indonesia. Seberapa jauh
peraturan tersebut berlaku ?
Siang itu, saya bertemu Mbah Mi, perempuan berusia
80an tahun. Saya mengenal Mbah Mi sejak kecil. Entah kenapa waktu itu saya jadi
penasaran, darimana asal Mbah Mi sebenarnya. Sebelum ia hidup sebatang kara
seperti saat ini.
Mbah Mi tinggal di belakang rumah saya, terpisah
dengan tegal sekitar dua ratus meter. Tetangga sebelah kanan rumahnya juga
jauh, kira-kira jaraknya sama antara rumah saya dengan Mbah Mi. Hanya dua rumah
tetangga itu yang bisa terlihat dari kediaman Mbah Mi. Ia memang tinggal
sendiri, di tengah tegalan, agak jauh dari keriuhan jalan raya dan masyarakat.
Sudah 40 tahun, Mbah Mi menghabiskan hidupnya
sendirian, di Sebuah desa bernama Wringinputih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Sebelumnya,
ia tinggal bersama sang suami bernama Tukijan, agak jauh dari rumah saya.
Keduanya hidup sederhana dan saling menyayangi. Setiap pagi Mbah Mi pergi ke
pasar untuk menjual tompo hasil kerajinan tangan Tukijan. Rutinitas tersebut
tidak bertahan lama, setelah Tukijan meninggal, terkena penyakit. Keduanya
belum sampai dikaruniai anak.
Setelah kepergian Tukijan, ada seorang duda yang
meminang Mbah Mi. Ia bernama Sumiran. Status duda Sumiran ia peroleh setelah
hubungan dengan istrinya kandas. Mbah Mi yang sudah tidak memiliki lelaki untuk
memberi nafkah, akhirnya menerima Sumiran sebagai suami kedua.
Hubungan Mbah Mi dengan Sumiran tidak berjalan
harmonis. Setiap hari Mbah Mi nyeser
udang di kali untuk dijual dan dibelikan beras. Sedangkan Sumiran hanya nganggur di rumah. Kabarnya Sumiran juga
sempat bekerja sebagai buruh nelayan di Muncar. Tapi penghasilan Sumiran tidak
pernah diberikan kepada Mbah Mi. Cerita masa lalu Mbah Mi dengan suaminya ini
saya perolah dari Mbok Sum, (Mbah saya sendiri). Waktu itu hampir setiap hari
Mbah Mi berkunjung ke rumah Mbok Sum, menceritakan perlakuan semena-mena Sumiran.
“Setiap berkunjung kerumah, biasanya tak suruh bantu-bantu. Lalu tak kasih
uang,” ujar Mbok Sum, siang tadi.
Pernah suatu
kali, Mbah Mi merasa tertekan dengan sikap Sumiran. Bila persediaan beras
habis, Mbah Mi selalu disuruh untuk hutang beras di salah satu toko kelontong
dekat rumah. Sumiran sempat memarahi Mbah Mi saat hasil ngutang beras terlalu
sedikit. Porsi makan Sumiran memang banyak, hingga seringkali nasi yang ditanak
hanya disisakan sedikit untuk Mbah Mi.
Kehidupan sendiri Mbah Mi dimulai sejak Sumiran
memutuskan untuk merantau ke pulau Sumatra. Kepergian Sumiran bisa jadi membuat
hidup Mbah Mi tidak lagi tertekan. Apalagi Sumiran mau memberi nafkah, berupa
uang dari hasil kerjanya di Sumatra.
Sebelum pergi meninggalkan tanah Jawa, Sumiran
berjanji akan membelikan jarik
(selendang yang biasa digunakan untuk menggendong bayi atau rok). Menurut Mbah
saya, selendang merupakan jenis sandang yang cukup istimewa, terutama bagi
masyarakat Jawa.
Selama di Sumatra, Sumiran tidak pernah memberi
kabar. Apalagi uang dan selendang. Ternyata di Sumatra Sumiran kawin lagi,
menurut kawan sekerjanya yang berasal dari sini, Desa Wringinputih.
***
Saya mengenal Mbah Mi sebagai orang yang tegar dan
tekun. Pekerjaannya sejak dulu mulai dari saya masih kecil sampai sekarang,
hanya meng-gado ayam dan membuat sapu
lidi. Sebuah pekerjaan yang sederhana untuk orang lanjut usia.
Gado
ayam merupakan istilah orang Jawa untuk menyebut sistem bagi hasil. Ayam yang
dipelihara Mbah Mi mulanya milik orang atau tetangga. Setelah bertelur, menetas
dan Anak-anak ayam sudah besar, 50% dari jumlah anak merupakan milik Mbah Mi,
sisanya diberikan kepada pemilik ayam. Itulah yang disebut sistem gado atau paron
Mbah Mi bukanlah generasi melek huruf. Kisah Mbah Mi
dengan suaminya saya rasa merupakan warisan sistem patron klien di kalangan
masyarakat Jawa. Bukan hanya soal laki-laki yang cenderung dominan dalam
keluarga, melainkan wanita yang seolah menerima keadaan tersebut. Tapi saya
kira generasi kekinian lebih objektif, tidak mau terkekang oleh nilai-nilai
dogmatis.
Sejak ditinggal Sumiran, hidup Mbah Mi justru lebih
bebas. Tidak ada lagi yang menyuruh atau memarahinya. Sampai sekarang, ia masih
hidup sendiri di rumah. Menikmati masa tuanya.
Pernah suatu kali ada orang yang mengaku keluarganya
datang ke rumah Mbah Mi untuk mengajak tinggal bersama di Kalimantan. Tapi Mbah
Mi lebih memilih hidup sendiri, di rumahnya sendiri dan hidup di tengah
masyarakat yang peduli dengannya.
Soal makan, Mbah Mi seringkali diberi oleh tetangga.
Rumahnya juga hasil sumbangan masyarakat Wringinputih. Tanah yang ia tempati
sekedar meminjam dari warga desa kami. Meski begitu, ia selalu berysukur dari
hasil gado ayam dan membuat sapu
lidi.
“Ini bukan rumah dari sumbangan pemerintah. Ini
sumbangan langsung dari masyarakat sini,” ungkap Mbah Mi.
Banyuwangi, 4 Juli 2014.
Rabu, 23 Juli 2014
Buyut Awet Muda dan Sebuah Kelahiran Baru
Sore ini, saya berkunjung ke rumah Pak Wek. Sebutan
kami untuk memanggil seorang Kakek. Saya duduk dengannya di depan televisi
sambil buka puasa. Umurnya sudah 71 tahun. Ia lahir pada 1943, dua tahun
sebelum Indonesia merdeka.
Setelah berbuka puasa, di samping saya ada setoples
marning, camilan tradisional buatan sendiri. Sambil leyeh-leyeh saya memakan marning dengan tenang. Rasanya renyah,
sedikit membandel bila dikunyah: renyah tapi keras. Suara renyahnya bisa
terdengar jelas.
“Kriuk, kriuk,” terdengar suara serupa di samping
saya. Dengan santai Pak Wek melahap marning tanpa ada rasa was-was saat mengunyahnya.
Orang sesusia Pak Wek biasanya, bila mengunyah marning kecenderungannya
was-was. Takut mengenai gigi yang sakit, keropos, bahkan tidak mau memakannya
karena gigi gerahamnya sudah ompong.
Basa-basi dimulai. Saya tanya solah bagaimana proses
pembuatan marning. Prosesnya ternyata cukup gampang. Hanya menyiapkan jagung
yang direbus dengan enjet. Setelah
itu baru digoreng dengan bumbu. Selesai.
Bahasa daerah di Indonesia memang memiliki pembendaharaan
kata yang kaya. Enjet sebenarnya
berasal dari kapur. Dalam bahasa Indonesia sendiri, untuk menyebut enjet harus ada penjelasan lebih. Tidak
ada diksi spesifik yang memiliki makna serupa dengan enjet. Dalam bahasa Jawa, enjet
bermakna kapur yang digunakan sebagai campuran pengolahan makanan, menginang
dan obat-obatan.”
Sehingga, kapur dalam bahasa indonesia bisa bermakna
enjet dan pemutih dinding. Meski sebenarnya, enjet berbeda dengan kapur yang masih
bisa dibuat mengecat dinding atau campuran bahan cor bangunan. Enjet sudah tidak memiliki reaksi panas.
Orang Jawa menyebutnya kapur yang sudah mati.
Setelah bertanya tentang proses pembuatan marning.
Saya jadi penasaran, orang seusia Pak Wek kok
giginya masih kuat digunakan untuk mengunyah makanan sekeras marning. Sayapun
bertanya seputar kisah perawatan gigi Pak Wek.
Sejak masih muda, ia selalu rutin berkumur getah
tanaman jarak. Paling tidak satu bulan sekali. Saya pun penasaran dan ingin langsung
mencobanya. Tidak banyak basa-basi Pak Wek mengambil senter, mengantar saya ke
lokasi tanaman jarak.
Batang jarak yang paling ujung, ditekuk sampai
mengeluarkan getah. Setelah itu langsung dihisap. Rasanya sangat sepat bercampur pahit. Di dalam mulut
terasa berbusa. Itu yang digunakan untuk berkumur, dua sampai tiga menit lalu
dimuntahkan. Setelah itu, rasanya enak dimulut. Kalau tidak percaya silahkan
mencoba.
Pak Wek saya lalu melanjutkan cerita, seputar
pengalaman pengobatan tradisional. Bila ia merasa pusing, gelisah, tidak enak
badan. Ia cukup menaruh air putih yang sudah direbus ke dalam cawan. Sekitar
pukul 19.00 WIB, cawan berisi air tersebut ditaruh di halaman rumah. Atau di
manapun yang penting di luar rumah.
Menurut Anthonya Reid dalam buku, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1860
Jilid 1, masyarakat Eropa ternyata juga banyak belajar tentang medis di Asia
Tenggara. Masyarakat Asia Tenggara yang dianggap masih primitif, belum beradap,
ternyata memiliki keistimewaan dalam hal medis. Yaitu pengobatan dengan
rempah-rempah.
***
Pagi ini saya juga mendapatkan kabar, bahwa Pak Wek
mulai hari ini sudah menjadi Buyut. Selamat ya, sudah menjadi tua dengan status
struktur sosial keturunanmu. Mulai saat ini saya akan menyebutnya Buyut yang
awet muda. Buyut yang masih lahap makan marning.
Sekarang sudah pukul 05.00 WIB. Di luar
saudara-saudara saya riuh membicarakan kelahiran Cicit baru. Ternyata hari
ulang tahun keponakan saya ini sama dengan adik kandung saya Jihan, 21 Juli
2014. Dari dalam rumah Pak Wek, saya keluar untuk sekedar mencari informasi
lebih. Saudara-saudara saya sudah berkumpul di depan rumah, membicarakan
kelahiran saudara baru sambil persiapan memanen tembakau na oogst.
Kabarnya sang bayi berkelamin Laki-laki, bertubuh
gendut dan berambut lebat. Ia lahir pukul 03.00 WIB. Saya langsung berkomentar,
“Pasti gedenya jadi keren kayak saya.” Semua langsung tertawa dan mengiyakan, J.
Adik baru saya yang belum tahu siapa namanya ini kabarnya lahir dalam kondisi melumah, tidak tengkurap. Sehingga agak
susah dan lama. Tapi syukur, Ibu dan anaknya sehat dan selamat.
Cuaca di Jember semalam sangat dingin. Pagi tadi
sekitar pukul 05.30, saya ikut menjenguk Si Bayi bersama keluarga. Kabut tipis
masih terlihat mengendap di Jember selatan ini. Tepatnya di Desa Kesilir,
Kecamatan Wuluhan. Sekarang musim tembakau, saya naik sepeda motor membelah
kabut. Inilah istimewanya Jember. Setiap pagi pasti dipenuhi kabut. Barangkali
ini yang membuat Jember menjadi bagus ditanami tembakau.
![]() |
| Wuluhan, Jember: Tembakau Na oogst yang masih diselimuti kabut (dok. pribadi) |
![]() |
| Wuluhan, Jember: Kabut masih mengendap dalam tanaman tembakau. (dok. pribadi) |
![]() |
| Jenggawah, Jember :Tembakau yang dikerodong waring (dok. pribadi) |
Sampai di rumah persalinan, saya melihat bayi
laki-laki itu. Ia sudah dibersihkan dan diberi bedak lalu diimunisasi. Saya
jadi ingat ungkapan Antony Reid yang pernah menyebut kondisi kehidupan
masyarakat Asia Tenggara yang sangat dekat dengan alam antara abad 15-17. Untuk
mendeskripsikan kejernihan sungai ia menulis, ada bayi-bayi baru lahir langsung
dimandikan di sungai. Itulah budaya masyarakat Asia Tenggara.
![]() |
| Dalam ruang persalinan, Adik bayi yang baru lahir (dok. pribadi) |
Masih di kawasan Jenggawah, masuk di Desa Seruni, saya melihat sungai yang diberi tanda larangan meracun ikan dan menyetrum. Saya rasa ini sebuah kemajuan, untuk menjadikan sungai sebagai tempat khusus memancing. Dan tentunya lebih mendekatkan lagi hubungan antara manusia dengan alam, -yang dirasa semakin berjarak.
![]() |
| Jenggawah, Jember : Sungai khusus memancing (dok. pribadi) |
Selain itu, Masyarakat Asia Tenggara memiliki
kebiasaan mandi tiga kali sehari, membuat badan jadi segar dan bisa meluruhkan
penyakit. Hal ini membuat orang-orang Eropa yang berkunjung menjadi kagum.
Masyarakat Eropa biasanya hanya mandi sehari sekali, itupun di dalam bak.
Besok adalah hari yang menentukan untuk bangsa ini.
Adik saya yang baru lahir ini, menyapa Indonesia dalam kondisi politik yang
sedang tegang. Menunggu hasil penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum.
Semoga yang menjadi presiden merupakan orang bijaksana. Tidak otoriter, sentralistik,
apalagi intoleran yang bisa memicu konflik horizontal. Adik yang belum punya
nama, kamu punya kesempatan untuk menjadi pemimpin. Semoga.
Jember, 21 Juli 2014
Minggu, 20 Juli 2014
Kebebasan Berpikir di Ruang Publik
Bagi kalangan pelajar yang saya kenal di
Jember, Alun-alun disebut sebagai taman kota. Tempat bermain, berkumpul dan
olah raga. Bagi masyarakat Jember selatan, beberapa keluarga saya yang ada di
sana menyebutnya sebagai pusat kota. Bayangan kehidupan yang berjarak dari
rutinitas masyarakat urban. Saya sendiri menyebut alun-alun tidak lebih hanya
ruang politis Pemkab Jember. Ia hanyalah identitas yang dipaksa agar dikagumi
dan menjadi ruang publik eksklusif.
Siang itu, saya, Budi dan Dian Cetar, datang
ke alun-alun untuk sekedar mengusir penat. Beragam kegiatan bercampur aduk di
Alun-alun. Mulai dari orang berumur tua
yang sedang lari-lari kecil mengelilingi Alun-alun, para pemuda bermain basket,
nongkrong, pacaran, semua tumpah ruah di Alun-alun. Semua lapisan masyarakat
bisa hadir di sini dan bebas membicarakan apapun. Tidak ada dominasi kekuasaan
yang membatasi kebebasan berpendapat.
![]() |
| Para pemuda sedang bermain basket (Dok. Cetar) |
Apakah ini yang dinamakan ruang publik
abad 21?. Setelah reformasi, kebebasan berpendapat sudah bisa dirasakan.
Kebebasan itupun tidak dimaknai secara liar, sikap demokrasi tetap menuntut
tanggungjawab. Alun-alun merupakan proyeksi pemerintah untuk memberikan
fasilitas kebebasan aktivitas masyarakat. Bukan dimaknai milik masyarakat
sepenuhnya. Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi sesuai instruksi dari
pemerintah. Seperti, pedagang kaki lima dilarang berjualan di Alun-alun. Meski
peraturan tersebut tidak sepenuhnya dipatuhi.
![]() |
| Peraturan dari Pemkab (Dok Ulil) |
Ruang publik di era kekinian memang
tidak hanya berlaku di lapangan. Ia juga muncul di dunia maya: internet.
Setelah munculnya kapitalisasi percetakan di abad 18, media-media cetak telah
memberikan kontribusi untuk menciptakan opini publik. Bagaimana akhirnya kita
bisa mengenal bangsa-bangsa yang berjarak. Atau jauh dari realitas kehidupan
sekitar. Dari keberjarakan tersebut, bagi Benedict Anderson dalam buku Imagined Communities, konsep kebangsaan
atau rasa nasionalisme bisa terbentuk lewat media. Meski hanya ada di dalam
bayangan. Bila kita ada di Jawa, kebudayaan-kebudayaan masyarakat Papua, Aceh
dan daerah luar Jawa yang tidak pernah kita saksikan secara langsung, bisa
lebih dikenali.
Saya mencoba berjalan mengelilingi
Alun-alun, orang-orang yang menikmati keberadaan Alun-alun, terlihat beragam.
Bila dilihat dari pakaian yang dikenakan. Ada yang mengenakan pakaian necis.
Ada pula hanya ala kadarnya. Barangkali ini juga menggambarkan keberagaman
masyarakat Jember. Beragam etnis dan budaya. Masyarakat Jember semuanya memang
pendatang. Sehingga, tidak terbentuk satu keseragaman yang dominan.
Sebuah
Tesis Program Studi Ilmu Sejarah, karya Chandra Aprianto, Dekolonisasi Perkebunan di Jember Tahun 1930-1960an, sempat
menyinggung awal mula munculnya arus migrasi masyarakat yang datang ke Jember. Jember
pada mulanya merupakan daerah yang terisolir. Sejak masuknya perkebunan swasta,
perkembangan Jember menjadi semakin pesat dibandingkan dengan daerah di
Karesidenan Besuki, (Panarukan, Bondowoso dan Banyuwangi).
Jember
dikenal sebagai salah satu kota perkebunan di Indonesia, sejak pertengahan abad
XIX sampai awal abad XX. Dimulai dari masuknya pengusaha swasta untuk membuka
perkebunan di Jember pada 1859. Salah satunya adalah Goerge Bernie yang
memiliki perusahaan LMOD terbesar di Jember.
Munculnya
pengusaha swasta tersebut merupakan respon dari kaum liberal karena melihat
kekejaman sistem tanam paksa di Jawa. Pemerintah kolonian Belanda menerapkan system of Interprise, sebagai kelanjutan
dari tanam paksa yang membawa kemelaratan masyarakat di sekitar perkebunan. System of Interprise diprakarsai oleh
kelompok liberal yang menentang sistem tanam paksa. Sistem ini memunculkan
perkebunan swasta, dengan harapan komoditi tanaman ekspor dapat memberi
keuntungan kepada pemerintah.
Keberadaan perkebunan di Jember tersebut, telah
mendorong arus migrasi untuk dijadikan tenaga kerja.
Etnis
Madura yang lebih mendominasi wilayah Jember terjadi karena pencarian wilayah
yang lebih subur. Arus migrasi pada mulanya terjadi dari pulau Madura dan
wilayah Panarukan. Terutama setelah Munculnya pengusaha perkebunan pada 1859
yang membutuhkan jasa untuk membuka hutan guna lahan perkebunan kopi, tembakau,
kakao, tebu, karet dan lain-lain.
Kemajuan
perekonomian di Jember dan derasnya arus migrasi dari Pulau Jawa dan Madura, terjadi
setelah adanya perbaikan infrastruktur seperti jalan serta rel kereta api. Membuat
Jember menjadi kota tersendiri pada Tahun 1883. Dalam artian tidak lagi menjadi
onder distrik dari Bondowoso. Sekarang,
jalur kereta yang menghubungkan Jember menuju Bondowoso dan Situbondo sudah
tidak difungsikan lagi.
Dari
arus migrasi itulah, masyarakat Jember menjadi beragam, membawa kebudayaan
daerahnya masing-masing, sehingga memunculkan perpaduan kebudayaan yang disebut
pandalungan.
***
Dari
keberagaman tersebut, saya sempat berpikir. Apakah ruang pertemuan publik
bernama Alun-alun ini masih menyimpan kesadaran sejarah? Paling tidak bisa
menjadi bahan obrolan bagi siapapun yang berkunjung ke Alun-alun Jember. Saat
sampai di Alun-alun bagian utara, saya melihat dua tugu besar berlapis tembaga.
Tugu sebelah barat bertuliskan Adipura dan sebelah timur tertulis Adiwiyata,
keduanya berjajar, dengan tinggi sekitar 7 meter.
![]() |
| Simbol prestasi Pemkab (Dok Dian Cetar). |
Tugu
tersebut setidaknya telah memberi ingatan politis, bahwa Jember pernah
mendapatkan penghargaan kementrian lingkungan hidup. Sebuah simbol penghargaan
kebersihan dan keteduhan lingkungan kota untuk Adipura dan simbol kesadaran
pelestarian lingkungan melalui lembaga pendidikan untuk Adiwiyata. Apakah
simbol tersebut masih berlaku di Jember? Bila masih melihat sampah berserakan
di sungai dan aktivitas proyeksi tambang di gunung Manggar, Jember selatan.
Simbol kebesaran Jember tersebut memang bisa menjadi pemantik sebuah
perdebatan, atau paling tidak menciptakan opini publik. Bagi siapapun yang
berkunjung ke Alun-alun Jember.
Bila
dilihat dan dirasakan, berada di Alun-alun Jember memang menyenangkan. Banyak
pohon kelapa berjajar rapi di selatan taman bermain anak-anak. Ada lapangan
hijau luas yang biasa dimanfaatkan untuk bermain sepak bola. Serta pohon-pohon
besar yang ada di setiap sudut Alun-alun. Ada pot-pot bunga besar, yang
beberapa tanamannya sudah mati, atau barangkali sengaja dimatikan. Ada pula
sejenis tanaman kurma yang berjajar rapi di tepi Alun-alun. Bila malam, pohon
kurma tersebut menyala, karena dilingkari lampu-lampu kecil yang genit J.
Cukup cocok sebagai ruang romantisme penghargaan Adipuran dan Adiwiyata.
![]() |
| Pohon-pohon kelapa di selatan taman bermain Anak-anak (Dok. Dian Cetar) |
![]() |
| Tanaman di pot yang terlihat sengaja diikat (Dok. Cetar) |
![]() |
| Ruang bermain Anak-anak (Dok Cetar) |
Saya
sempat duduk-duduk santai di bawah rindang pohon kelapan Alun-alun Jember. Dari
situ terlihat patung M. Letkol Seroeji, tepat di dapan kantor Pemkab Jember.
Salah satu simbol perjuangan Jember saat mempertahankan kemerdekaan dari
penjajahan Kolonial Belanda. Ia merupakan patriot lokal yang belum banyak
diwacanakan dalam bangku sekolah. Ternyata Jember juga punya pahlawan. Dalam
perspektif penulisan sejarah baru di Indonesia, definisi pahlawan tidak harus
orang-orang besar yang harus memberi pengaruh dalam skala nasional. Dalam
tingkat kota sampai desa, seseorang yang berjuang demi kepentingan bersama bisa
disebut pahlawan. Meski seorang petani sekalipun.
Saya
rasa, keberadaan patung M. Letkol Sroedji bisa dijadikan pemantik rasa ingin
tahu untuk mengenalnya lebih jauh. Perjuangan M. Letkol Sroedji tidak bisa
dilepaskan dari adanya perjanjian Renville pada 17 Januari 1948, yang merugikan
persatuan bangsa Indonesia. Dari perjanjian tersebut, salah satunya berisi :
Belanda hanya mengakui Sumatra dan Jawa Tengah sebagai wilayah Republik
Indonesia. Barangkali itu yang akhirnya membuat M. Letkol Sroedji mempertahankan
Jember, yang masuk dalam administratif Jawa Timur.
![]() |
| Patung M. Letkol Sroedji di depan kantor Pemkab Jember (Dok. Ulil) |
***
Perjalanan
kami lanjutkan ke seberang jalan. Ada keramaian di depan Masjid Baitul Amien.
Sebuah masjid dengan arsitektur yang eksotis. Atap yang berbentuk setengah
lingkaran terlihat seperti bangunan kantor DPR RI. Karena jalan raya yang
menghubungkan Surabaya dengan Jember ini terlalu padat, kami menyebrang melalui
jembatan layang. Sebelum naik ke Jembatan, di depan yayasan Masjid Jami’ Al
Baitul Amien, kami menemukan tanda titik nol kilometer Jember.
![]() |
| Tanda titik nol kilometer Jember (Dok. Dian Cetar) |
![]() |
| Dari atas jembatan : Anak-anak mengaji terlihat di sekitar Masjid Baitul Amien (Dok. Ulil) |
Keramaian yang ada di depan Masjid Baitul Amien, setelah kami dekati ada pos makanan gratis. Terlihat juga bus donor darah dari Palang Merah Indonesia (PMI). Kegiatan donor tersebut dilakukan setiap malam, selama bulan Ramadhan.
![]() |
| Dari seberang jalan, terlihat keramaian masyarakat (Dok. Ulil) |
![]() |
| Posko buka bersama dan donor darah (Dok Dian Cetar) |
Dari
titik nol kilometer Jember, kami memutuskan kembali ke tempat awal perjalanan
dimulai. Alun-alun sebagai ruang publik, merupakan fasilitas umum yang akan
siap menampung kebebasan berpikir kapanpun. Terlepas dari konstruksi politis
tata ruang Alun-alun dari Pemkab. Semoga dominasi kekuasaan orde baru yang mengekang
kebebasan berpendapat tidak akan hidup kembali di era kekinian.
Jember, 17 Juli 2014.
Langganan:
Postingan (Atom)


























